Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan

Oscar Lawalata: Berdayakan Pengrajin Tenun Indonesia

0 comments


Oscar Septianus Lawalata atau lebih dikenal dengan Oscar Lawalata lahir di Pekanbaru, Riau, 1 September 1977. Dia adalah anak pertama dari pasangan Ragnild Antoinette (lebih dikenal sebagai Reggy Lawalata) dan Alexander Polii. Saudara laki- lakinya, Mario Lawalata, dikenal sebagai pemain sinetron terkenal.
Berbekal bakat menggambar yang dimilikinya, Oscar mulai meniti mimpinya dengan bersekolah di Esmod, Jakarta. Program yang seharusnya tiga tahun, hanya dijalani separuhnya saja. Oscar berhenti sekolah saat terjadi krisis moneter pada tahun 1998. Uang yang sedianya untuk biaya sekolah di Esmod, digunakannya untuk membuka usaha sendiri. Meskipun belum menyelesaikan studinya jiwa wirausaha itu begitu kuat. Berawal dari persahabatannya dengan seorang model, Novie yang dikenalnya mengikuti lomba model di majalah remaja dulu ketika SMA. Bersamanya yang sudah dianggap sebagai kakak, Oscar memasuki dunia fasion dan mode di Indonesia.
Pada tahun 1999, Oscar mengikuti lomba desain di Singapura dimana menjadi ciri khasnya sekarang. Dia, kala itu, membuat rancangan yang terinspirasi dari baju Bodo, khas Sulawesi Selatan. Ia mengaku memang menyukai keindahan dan keunikan kultur Indonesia. Dia sukses membawa budaya dari Indonesia ke pentas dunia. Berkat rancangan yang unik membawanya menjadi pemenang ajang di Singapura. Oscar meraih juara kedua ASEAN Young Designer Contest, Singapura. Namanya kian melejit dan profil dirinya ditulis berbagai media cetak seperti Kompas.
Oscar juga berkonsentrasi pada pengembangan nasional tenun tekstil sebagai warisan budaya Indonesia, yang sekarang dikerjakannya sebagai koleksi dari labelnya Oscar Lawalata Couture. Oscar melakukan penelitian selama 10 tahun mengenai kain tenun Timor. Oscar menjalin kerjasama dengan para pengrajin tenun tradisional yang ada di berbagai daerah Indonesia. Para penghajin tenun yang biasanya mendapatkan bayaran yang kecil atas karya yang mereka buat. Melalui Oscar Lawalata, karya mereka bisa sampai ke dunia Internasional dengan bayaran yang sepadan.
Pada Februari 2009, Oscar meraih penghargaan International Young Creative Entrepreneur (IYCY) yang digelar British Council, dan berhak atas hadiah uang sebesar 7.500 Pounsterling. Kompetisi internasional yang digelar sejak tahun 2005 itu diikuti 115 perancang dari 47 negara di Asia, Afrika, Eropa Tengah, Timur Tengah dan Amerika Latin. Dalam ajang itu, ia berhasil menyingkirkan perancang dari Brazil, India, Polandia, Arab Saudi, Srilangka, Thailand, Tunia dan Vietnam. "Saya merasa senang bercampur sedih, haru, dan merupakan suatu kehomatan bagi dunia mode di Indonesia," ujar Oscar seperti dikutip dari situs surya.co.id.

By: Anis Soraya

Sumber : surya.co.idtokohindonesia.com, businessweek.com

gambar: http://www.indonesianfilmcenter.com/cc/oscar-septianus-lawalata.html

Gigin Mardiansyah: Bangun bisnis dari kesederhanaan ide

0 comments

Ide untuk memulai sebuah usaha, tidaklah selamanya datang dari suatu hal yang besar. Seringkali ide yang sangat sederhana pun, jika dijalankan dengan ketekunan dan kesungguhan, bisa mendatangkan keuntungan yang sangat besar. Hal itulah yang dialami oleh Gigin Mardiansyah, seorang entrepreneur muda asal Bogor, Jawa Barat, yang menjalankan bisnis aksesoris boneka Horta, atau boneka hortikultura. Bahkan atas pencapaiannya sebagai seorang wirausahawan muda, Gigin pun telah mendapatkan berbagai penghargaan. Salah satunya adalah penghargaan dari Kementerian Pemuda dan Olahraga sebagai salah satu Pemuda Andalan Nusantara tahun 2010.
Gigin Mardiansyah
Lulusan Institut Pertanian Bogor itu mengembangkan boneka horta setelah memerhatikan semakin rendahnya minat anak-anak mempelajari dunia pertanian. Maka, untuk menarik minat anak-anak terhadap pertanian, ia menciptakan boneka horta sebagai media edukasi. Gigin menemukan ide bagaimana membuat boneka yang sekaligus menjadi wahana bagi tumbuhnya rumput di dalam boneka tersebut. Karena berfungsi sebagai wahana tanam, dipilihlah serbuk gergaji sebagai bahan utama pembuat boneka
Serbuk kayu yang merupakan limbah industri penggergajian kayu kemudian dibentuk sedemikian rupa menggunakan bahan stoking dan bahan lain, sehingga menjadi sebuah boneka. Di dalam serbuk kayu ditanamkan bibit-bibit rumput. Jika rajin disiram, lama kelamaan dari dalam serbuk kayu itu akan tumbuh rumput-rumput hijau.
Sedangkan bahan-bahan lainnya adalah benih rumput, arang sekam, pupuk, dan aksesoris boneka seperti mata, pita-pita, dan kancing. Bahannya diperoleh dari sekitar kota Bogor, kecuali untuk benih rumput yang harus didatangkan dari Amerika, karena benih rumput lokal hingga saat ini sulit diperolehnya, sehingga membuat Gigin beserta teman-temannya mengadakan penelitian untuk benih rumput lokal. Dalam satu tahun, mereka mengimpor benih rumput setidaknya sekitar 1 ton dari Amerika.
Dengan konsep boneka tersebut, Gigin juga berharap bisa menanamkan kecintaan terhadap tanaman dan lingkungan kepada anak-anak, melalui cara yang mereka mengerti dan sukai. Ide yang terkesan sangat sederhana, tetapi akan bisa lebih dimengerti oleh anak-anak.
Gigin memulai bisnis tahun 2006, saat usianya 22 tahun. Saat itu Gigin dan 6 orang rekannya membuat sebuah proporsal yang diajukan kepada Dirjen Pendidikan Tinggi melalui Program Kreativitas Mahasiswa (PKM). Dan ternyata proporsal mereka diterima dan mereka mendapatkan modal awal untuk pengembangan usahanya sebesar Rp 4,75 juta. Kemudian dari situlah mereka mengawali untuk memproduksi boneka-bonekanya. Modal itu kemudian dibelikan berbagai peralatan sederhana untuk membuat boneka dari bahan-bahan serbuk gergaji.
Bukan hal mudah bagi Gigin untuk mengembangkan usaha bonekanya menjadi besar. Terlebih saat rekan-rekan Gigin satu persatu meninggalkannya karena memilih melamar dan bekerja di perusahaan. Namun, dengan tekadnya yang kuat, Gigin tetap berupaya mempopulerkan boneka horta.
Pada awalnya, untuk memproduksi Boneka Horta Gigin mulai merekrut tiga orang karyawan dengan produktivitas yang cukup baik, lima puluh boneka per minggu.  Namun, dengan semakin membanjirnya pesanan dan meningkatnya penjualan Boneka Horta, kini Gigin mempunyai empat puluh karyawan yang ditempatkan di rumah produksi  di Ciomas.  Sekarang pun produksinya sudah mencapai tujuh ratus hingga seribu boneka per hari.
Boneka Horta adalah produk utama dari usaha wiraswasta ini. Gigin selalu menekankan pentingnya kreativitas dan terus melakukan inovasi produk.  Produk ini cukup menarik perhatian masyarakat dan menjadi salah satu produk unggulan.  Sampai sekarang Horta mempunyai diferensiasi produk, yaitu Boneka Horta Panda, Horta Kura-kura, Horta Platipus, Horta Sapi, dan sebagainya. Bahkan, untuk ke depan Horta sudah menyiapkan boneka dengan variasi bentuk buah-buahan.
Sembilan puluh persen boneka masih diproduksi dan dipasarkan sesuai dengan pemesanan. Proses produksi memakan waktu sekitar satu minggu. Apabila konsumen memesan hari ini, minggu depan Boneka Horta baru bisa diambil. Boneka Horta sering mendapatkan pesanan dari perusahaan-perusahaan besar yang ingin menggunakan produknya sebagai souvenir.  Beberapa perusahaan tersebut antara lain adalah Toyota, Frisian Flag, dan Bank Ekonomi. Untuk sepuluh persen sisanya dijual dan didistribusikan ke toko, ritel, dan pusat-pusat perbelanjaan.
Uniknya, pada awalnya target market Boneka Horta adalah para siswa TK dan SD, dengan tujuan ingin memperkenalkan dunia pertanian kepada mereka. Namun Boneka Horta ternyata disukai oleh segmen anak muda.
Horta membandrol produknya dengan harga berkisar Rp 7000 sampai Rp 15.000 di toko Boneka Horta sendiri. Sedangkan di tempat-tempat perbelanjaan lain, konsumen bisa mendapatkan boneka dengan harga Rp 20.000 sampai Rp 25.000.  Menurut Gigin, sampai saat ini Boneka Horta sudah terdistribusi di seluruh Indonesia, tapi  untuk sementara masih di kota-kota besar. Dalam satu bulan mereka bisa memproduksi dan mendistribusikan lebih dari dua puluh empat ribu boneka. Dari penjualan yang konstan, setiap bulan Boneka Horta bisa meraih omzet Rp 100 juta hingga Rp 150 juta perbulan.
Untuk ke depan, Boneka Horta mencoba fokus pada segmen anak-anak dan melakukan edukasi tentang pertanian kepada mereka. Dengan semboyan mainan unik, kreatif, dan imajinatif yang berwawasan lingkungan, Boneka Horta optimis memasuki segmen itu. Wujud nyatanya adalah dengan memberikan pelatihan-pelatihan Boneka Horta pada anak-anak. 

Edited by: Yasmin Anwar

Sumber: http://www.ciputraentrepreneurship.com/manufaktur/gigin-mardiansyah-bangun-bisnis-dari-kesederhanaan-ide diakses 11 desember 2014 pukul 13:05

Rudi Syaf: Sang Entrepreneur Sosial dari Jambi

0 comments

Rudi Syaf (Kiri)
Memperjuangkan hak kelola rakyat tak melelahkan Rudi Syaf. Pria paruh baya ini sudah sejak muda memang selalu menekuni dunia sosial dan advokasi masyarakat miskin di dalam dan sekitar hutan.
Bakat dan kemampuan Rudi di bidang ini sudah menonjol ketika masih berstatus mahasiswa. Kala masih menginjakkan tahun kedua kuliah, Rudi sudah mengorganisir kawan-kawannya untuk membangun kepedulian pada lingkungan dan masyarakat. Diawali dengan mendirikan Perkumpulan Gita Buana pada tahun 1987 hingga kemudian Warsi tahun 1991, dan sejumlah lembaga lainnya, untuk membela kepentingan masyarakat dan perlindungan kawasan hutan.
Di Komunitas Konservasi Indonesia (Warsi), Rudi sudah dua periode menjabat sebagai direktur eksekutif. Bersama Warsi pula perjuangan ayah tiga anak ini terus berkembang. Diawali pada tahun 1997, Rudi dan kawan-kawannya di Warsi melihat telah terjadi ketidakseimbangan pengelolaan sumber daya alam. Hal ini kemudian memiskinkan masyarakat yang hidup di dalam dan sekitar hutan, termasuk masyarakat adat, seperti komunitas Orang Rimba, Bathin IX dan Talang Mamak.
Bersama Warsi, dari penelitian dan analisis lapangan diketahui bahwa kehidupan suku-suku asli minoritas semakin terdesak akibat pola pembangunan yang diterapkan pemerintah. Sebagai contoh untuk Orang Rimba yang hidupnya sangat bergantung kepada hutan, tetapi hutan mereka dibabat dan digantikan dengan hutan monokultur, kebun sawit, transmigrasi. Akibatnya Orang Rimba tergusur dari tanah mereka sendiri.
Rudi dan kawan-kawan kemudian melakukan pendekatan pada Orang Rimba. Maklumlah pada saat itu Orang Rimba sangat marginal. Dia memilih menyisihkan separuh waktu di hidupnya dari komunitas dari luar mereka. Ketika hutan yang menjadi rumah mereka tergusur Orang Rimba memilih menghindar, namun kondisi ini tentu tidak bisa terus bertahan, karena lahan semakin sempit dan Orang Rimba semakin terjepit. Cukup panjang waktu yang dibutuhkan hingga kemudian Rudi dan Warsi bisa diterima Orang Rimba.
Kegiatan pertama yang Rudi lakukan adalah mengenali adat kebiasaan Orang Rimba untuk kemudian menemukan kebutuhan mendasar mereka, dari analisis dan kajian kita melihat bahwa ruang hidup Orang Rimba semakin sempit. Sedangkan penguasaan kawasan oleh korporasi meningkat drastis, Orang Rimba harus berjuang untuk mendapatkan haknya, jika tidak pada saatnya mereka akan kehilangan semuanya.
Seperti kawasan Hidup Orang Rimba di Bukit Duabelas, kala itu hutan dataran rendah di jantung Provinsi Jambi berstatus cagar Biosfir Bukit Duabelas dengan luas 37 ribu ha. Sedangkan di bagian utara kawasan telah diberikan izin konsesi untuk perusahaan HTI. Padahal di bagian utara ini juga terdapat komunitas Orang Rimba

Edited by Tundzirawati

Sumber:
http://news.detik.com/read/2012/04/04/165940/1885292/608/rudi-syaf-sang-entrepreneur-sosial-dari-jambi
http://sociopreneurugm.com/rudi-syaf-sang-entrepreneur-sosial-dari-jambi/

Mita Sirait : mengangkat ekonomi masyarakat dengan sampah

0 comments

Mita Sirait
Mulai dari masyarakat miskin di sekitarnya, Mita Sirait menyalurkan pengetahuan daur ulang sampah dan mengolahnya menjadi produk siap pakai bernilai tinggi. Tiga tahun berselang, keluarga-keluarga miskin pengolah sampah ini sudah bisa mencapai penghasilan dua kali lipat dari mulanya Rp 250.000 per kepala keluarga.
Tahun 2008, Mita Sirait mengumpulkan beberapa penduduk di Pondok Kelapa, Jakarta Timur di dekat rumahnya. Ia memberi pelatihan pengolahan sampah kepada penduduk miskin di Pondok Kelapa, mulai dari pemilihan sampah yang bisa didaur ulang hingga mengolahnya menjadi berbagai produk yang bernilai tinggi.
Mulai dari lingkungan sekitar rumah, Mita kini sudah membina lebih dari 300 kepala keluarga tak hanya di Jakarta, tapi juga di Tangerang dan Jawa Timur. Binaan ini memiliki tugas yang berbeda-beda, mulai dari mengumpulkan sampah, memilah antara sampah organik dan non-organik, hingga proses produksi menjadi barang siap pakai.
Lewat Komunitas Daur Ulang, Mita dan para mitranya menjual berbagai produk hasil limbah dengan harga antara Rp 15.000 hingga Rp 350.000 per unit. Produk yang paling digemari antara lain tas laptop dan tas sekolah. "Kami bisa melayani hingga 300 tas per bulan," kata perempuan kelahiran 16 Juli 1977 ini.
Keterlibatan Mita dalam pengolahan sampah sudah dimulai sejak lama. Setelah menamatkan kuliah dari jurusan Geografi Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, perempuan angkatan 1996 ini sem pat bekerja di sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Pengembangan Anak di Bandung selama dua tahun. Di sini, ia sebenarnya sudah memiliki ketertarikan untuk menanggulangi permasalahan sampah yang juga menjadi masalah besar di Kota Kembang tersebut.
Mita meyakini permasalahan ini tidak bisa mengandalkan pihak pemerintah saja, melainkan harus ada keterlibatan dari level grass root atau masyarakat lapisan bawah. Dengan kerja sama pemerintah dan masyarakat, lambat laun pasti masalah sampah bakal teratasi.
Pada tahun 2006, ia memutuskan untuk bergabung dengan sebuah LSM yang bergerak di bidang lingkungan, Emmanuel Foundation. Namun, pada tahun 2008, Mita memutuskan untuk lebih fokus pada sampah sedangkan lembaga tersebut tetap pada masalah lingkungan secara umum. Meski pun tidak berseberangan dengan LSM tersebut, Mita ingin lebih spesifik menggarap masalah sampah.
Ia pun mulai fokus mengembangkan para binaannya untuk serius mengelola sampah-sampah yang ada di sekitar mereka. "Saya ingin mereka bisa mandiri secara ekonomi sekaligus ikut menjaga kebersihan lingkungan," ujarnya.
Salah satu peristiwa yang membuat hati Mita miris adalah ketika ia melihat langsung kondisi penduduk di sekitar Bandara Internasional Soekarno-Hatta yang melakukan aktivitas dengan menggunakan air dari Sungai Cisadane yang kotor. "Mereka tidak mempunyai akses terhadap air bersih, padahal jaraknya tidak jauh dari gerbang internasional Jakarta," tambahnya.
Mita berpartisipasi aktif dari awal hingga akhir dalam proses pengolahan sampah plastik menjadi barang-barang dengan nilai ekonomi tinggi. Ia menyalurkan pengetahuan dan pelatihan berkenaan dengan jenis-jenis plastik, manfaat sampah, dan efek samping terhadap kehidupan. Mita pun menekankan pentingnya penggunaan air bersih dalam kehidupan sehari-hari.
Selain ikut dalam proses produksi, Mita juga membantu dalam interaksi dengan pasar hingga proses penjualan lewat berbagai relasi yang dimilikinya. Alhasil produk-produk mitra binaannya sudah sempat mencapai ekspor ke Amerika Serikat, Australia dan Malaysia.
Namun, karena adanya kebijakan program pengurangan emisi karbon, Mita memilih untuk memfokuskan penjualan produk-produk daur ulang binaannya ke dalam negeri saja. "Biar semakin populer dulu di dalam negeri," tegasnya.
Kemampuan Mita untuk mengembangkan masyarakat dengan bahan sampah tidak lepas dari bekal ilmu yang ia peroleh semasa duduk di bangku kuliah. Di jurusan geografi, Mita mengaku seperti memperoleh dua ilmu sekaligus yakni ilmu eksakta dan ilmu sosial. 
Ilmu eksakta berupa bagaimana mengenal alam beserta unsur-unsur pendukungnya sedangkan ilmu sosial mempelajari bagaimana berinteraksi dengan masyarakat sekitar. Jadi ia bisa menggunakan kedua ilmunya untuk mengembangkan taraf hidup masyarakat dan pengelolaan lingkungan.
Kemampuannya untuk menjalin relasi bisnis dengan para pelanggan juga ia peroleh dari pengalaman berbisnis selama kuliah. Di Yogyakarta, sambil kuliah Mita membuka tiga gerai penjualan telepon seluler beserta aksesorinya. Mita saat itu sudah memiliki sembilan karyawan. Namun, karena ingin fokus menyelesaikan skripsi, ia memutuskan untuk meninggalkan usahanya tersebut.
Saat ini, Mita sudah memiliki lima pusat pengolahan sampah yang ada di Jakarta dan Tangerang. Dengan cara ini, Mita telah menciptakan sumber pendapatan baru.
Para keluarga yang tadinya hanya punya penghasilan Rp 250.000 sebulan, setelah mengikuti proyek daur ulang ini bisa mendapatkan penghasilan dua kali lipat. Pada saat yang sama, keluarga-keluarga itu dapat mengolah sampah dan hidup sehat dengan penggunaan air bersih.
Mita sering harus merogoh kocek sendiri untuk menutup pengeluaran. Beruntung ia juga bekerja sebagai konsultan independen di lembaga yang didirikannya, Water, Sanitation, Hygiene (WASH). "Untuk hasil maksimal, kami memang harus berkorban tenaga, pikiran dan uang," ujarnya tanpa mengeluh. 

Edited by: Yasmin Anwar

Sumber: http://peluangusaha.kontan.co.id/news/mita-mengangkat-ekonomi-masyarakat-dengan-sampah-1 diakses 11 desember 2014 pukul 13:05

Rhenald Kasali: Wirausaha Sosial Bukan untuk Jadi Kaya

0 comments

Tujuan menjadi wirausaha sosial (social entrepreneur) adalah semata-mata bukan untuk menjadi kaya. Kewirausahaan sosial sejatinya adalah cara melatih kepekaan untuk berbagi terhadap sesama.
Rhenald Kasali
Menurut Rhenald, banyak orang bicara tentang wirausaha, namun mereka belum tentu paham. Saat ini banyak mentor bisnis yang mengajarkan kewirausahaan dengan cara cepat kaya. “Kaya adalah akibat, bukan tujuan. Kaya adalah hasil dari kerja keras kita. Tapi dalam kewirausahaan sosial, inovasi milik Steve Jobs dan Bill Gates digabung dengan kemurahan hati Bunda Theresa, kata Rhenald Kasali.
Padahal dalam kewirausahaan sosial ada beberapa hal yang menjadi pegangan yakni misi sosial, produk atau servis yang ditukar, dan keuntungan yang dicari didistribusikan bukan untuk kepentingan diri sendiri, serta harus dapat mempertanggungjawabkan terhadap apa yang disalurkan.
Menurut Rhenald Kasali, dalam kewirausahaan sosial, tidak hanya orang kaya yang bisa berbagi. Disini, orang miskin pun bisa berbagi.
Wirausaha sosial menjadi fenomena sangat menarik saat ini karena perbedaan-perbedaannya dengan wirausaha tradisional yang hanya fokus terhadap keuntungan materi dan kepuasan pelanggan, serta signifikansinya terhadap kehidupan masyarakat.
Wirausaha sosial melihat masalah sebagai peluang untuk membentuk sebuah model bisnis baru yang bermanfaat bagi pemberdayaan masyarakat sekitar.
Sementara itu, Kukrit Suryo Wicaksono menyampaikan, seorang wirausaha harus belajar dari kegagalan. Karena itu butuh mental juara untuk menghadapi kegagalan agar tidak mudah putus asa. Gagal dalam dunia usaha itu biasa. Justru harus disyukuri. Modal utama mencapai kesuksesan adalah networking. Karena itu jalin networking seluas-luasnya.

Edited by Tundzirawati

Sumber:
http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2012/09/09/129438/Rhenald-Kasali-Wirausaha-Sosial-Bukan-untuk-Jadi-Kaya
http://sociopreneurugm.com/rhenald-kasali-wirausaha-sosial-bukan-untuk-jadi-kaya/

Waroeng Pintar Karya Sofyan Tan

0 comments

Sofyan Tan. Pria asal medan, Sumatera utara ini merasa masih ada jurang pemisah yang besar antara etnis-etnis dan agama di Indonesia. Untuk itulah ia medirikan sekolah multikultural di bawah Yayasan Pendidikan Sultan Iskandar Muda (YPSIM). Di sekolah yang ia dirikan tersebut, para siswa dibiasakan dengan kemajemukan. Ia membangun semua rumah ibadah di sekolah itu dan menjelang perayaan hari raya suatu agama para siswa juga dibiasakan berpartisipasi mendukung, mialnya dengan mendekor ruang kelas.
Selain sekolah, pria yang mendapat penghargaan sebagai tokoh Social Entrepreneur 2011 dari sebuah surat kabar nasional ini juga mendirikan Waroeng Pintar sebagai wadah interaksi warga Medan dan memfasilitasinya dengan berbagai macam buku. Tujuan didirikannya Waroeng Pintar ini untuk menjembatani berbagai perbedaan di Medan.Menurutnya, warung makanan dan minuman (ringan), atau sering disebut juga kedai minuman, biasanya dijadikan ruang untuk berinteraksi diantara sesama anggota masyarakat. Di warung, orang-orang saling bersosialisasi, bertukar informasi, berkeluh-kesah, berkelakar dan melakukan aktivitas-aktivitas kemanusiaan. Melihat potensi tersebut, Sofyan Tan tergerak untuk meningkatkan fungsi warung makan.
Konsep “Waroeng Pintar” adalah upaya menjadikan warung makan dan minum sebagai sumber untuk mencari pengetahuan dan informasi bagi para pelanggan dan masyarakat sekitar warung. Caranya dengan memberi tambahan fasilitas buku-buku bacaan, yang dapat dimanfaatkan secara gratis oleh pengunjung. Kelak, pengelola warung pintar juga dapat menyediakan akses internet murah untuk menambah pasokan informasi dari dunia maya. “Saat ini sudah ada 2 warung pintar di Medan,”jelasnya. Bantuan buku-buku terus-menerus mengalir dari berbagai kalangan masyarakat. Ia sendiri banyak menempatkan buku-buku yang diharapkan dapat mengilhami pengunjuung untuk saling menghormati perbedaan yang ada.

By: Adetya Nuzuliani

Sumber:
http://www.sofyantan.org/
http://www.antarafoto.com/peristiwa/v1273496401/warung-pintar

Amin aziz, sang Perintis Ekonomi Syariah

0 comments

Amin Aziz merupakan salah satu tokoh yang berperan besar dalam sejarah perkembangan ekonomi syariah di Indonesia. Beliau termasuk cendikiawan yang pada tahun 1990 turut memperjuangkan berdirinya bank syariah pertama. Adalah Amin Aziz yang menjadi salah satu inisiator Lokakarya Bunga Bank dan Perbankan di Cisarua, Bogor pada tahun 1990. Semua dimulai dengan surat Amin menggunakan Yayasan Kajian Komunikasi Dakwah (YKKD) kepada Majelis Ulama Indonesia (MUI). Intinya, saat itu Amin menawarkan diri agar diberi tugas MUI untuk menggelar lokakarya sekaligus diberi wewenang mencari dana. MUI yang ada saat itu sudah mendapatkan gambaran utuh mengenai bank Islam dari Karnaen Perwataatmadja, langsung mengiyakan permintaan Amin. Selanjutnya Amin didapuk menjadi Ketua Tim Panitia Pelaksana Lokakarya.  Ia juga melahirkan konsep Baitul Maal Wat Tamwill yang memberikan alternatif pembiayaan usaha mikro.
Pembentukan BMT pertama dimulai tahun 1995 di Jakarta dan sampai dengan akhir 2009 sudah berdiri lebih dari 500 BMT baru. Dalam biografi tentang Amin Aziz yang berjudul “Kegigihan Sang Perintis”, berkat kegigihan dan kerja kerasnya, Amin berhasil mengumpulkan dana sebesar  Rp 125,5 juta sebagai modal menggelar lokakarya.  Pengarang Buku Buku Best Seller 2008 The Power of Al Fatihah ini juga tercatat dalam sejarah sebagai Wakil Ketua Tim Penyiapan Bank Tanpa Bunga. Bersama Karnaen Perwataatmadja, Amir Rajab Batubara, Zainulbahar Noor, gencar melakukan ‘roadshow’ audiensi pendirian bank syariah ke para pejabat di Bank Indonesia dan Kementrian Keuangan.  Pria kelahiran Lhokseumawe, 17 Desember 1936 ini memiliki prestasi gemilang dalam penggalangan modal awal pendirian bank syariah pertama. Sebagai ketua Tim Penggalangan Dana, Amin berhasil mengumpulkan dana komitmen sebesar Rp 110 Miliar di tahun 1990. Dana yang sangat besar untuk mendirikan bank, karena saat itu berdasarkan Pakto 1998, untuk mendirikan bank cukup Rp 10 Miliar.
Amin Aziz meraih gelar M.Sc Sosiologi Pedesaan di Uniuversity of the Philillone. Los Banos, Filipina tahun 1974 dan meraih gelar Ph.D ekonomi pertanian di LOWA State University, AS tahun 1978. [Puri Hukmi] Sosok Amin Aziz dikenal sebagai orang yang sangat memperhatikan ekonomi kerakyatan dan bagaimana cara menanggulangi kemiskinan. Menurut Nanat Fatah Natsir, Amin Aziz sangat perhatian kepada masyarakat miskin. Beliau juga merupakan sosok yang religius dan rendah hati.“Beliau orang yang sangat ikhlas dan konsen sekali terhadap masyarakat kecil. Kalau digambarkan hidupnya diabdikan untuk membela masyarakat lemah. “ Tutur Nanat
By: Resti Fauziah

Semangat Muda, Semangat Social Entrepreneur

0 comments

Berawal dari masalah ketidaksediaan listrik di Desa Bacu Bacu, Makassar, Sulawesi Selatan, sehingga masyarakat disana tak bisa menikmati listrik. Namun, dengan semangat muda yang dimilikinya, Harianto Albar (24 tahun) tahun 2012 mengembangkan kincir air untuk dijadikan sebagai pembangkit tenaga listrik. Mahasiswa Universitas Negeri Makassar ini lantas berhasil memproduksi listrik dari kincir air tersebut. Sejak saat itu, warga Bacu Bacu bisa menikmati listrik di malam hari.
Harianto merupakan satu dari sekian tokoh yang memiliki semangat muda untuk melakukan gerakan sosial. Ada yang membantu masyarakat mengajar baca tulis, atau kegiatan-kegiatan sosial lainnya. Kegiatan yang menggabungkan aksi sosial dengan kegiatan wirausaha atau enterpreunership dikenal sebagai social entrepreneurship.
Dengan kompleksnya masalah yang ada di masyarakat, bisa menjadi sarana untuk belajar mengembangkan diri, baik dalam hal pengabdian masyarakat maupun melatih wirausaha. Kini juga makin banyak pihak termasuk perusaahaan maupun LSM yang ikut berpartisipasi mendukung kegiatan sosiopreneur yang dilakukan mahasiswa.
Sebagai Generasi muda, mahasiswa seyogyanya memiliki energi lebih untuk mengaktualisasikan banyak hal. Tak salah jika masyarakat banyak berharap pada anak muda, terutama mahasiswa. Tak bisa dimungkiri, banyak hal baru yang diinisiasi oleh anak muda, terutama mahasiswa yang diharapkan bisa menjadi solusi bagi permasalahan yang ada di masyarakat.
Semangat Mahasiswa! Semangat muda!

Editor : Adetya Nuzuliani Rahma

Sumber Referensi:
http://lh3.ggpht.com/

Santoso : Wartawan Jadi Social Entrepreneur

0 comments

Siapa bilang seorang jurnalis tidak mampu bersaing dengan para tokoh bisnis? Pelaku bisnis radio dan seorang wartawan media elektronik, Santoso, yang tercatat sebagai Managing Director Stasiun Radio KBR68H berhasil terpilih sebagai Ernst and Young Enterpreneur of The Year 2010 untuk kategori bidang sosial, "Social Entrepreneur".
Stasiun radio KBR68H bermodalkan awal US$300 ribu yang berasal dari bantuan Asian Foundation, MDLF, Kedutaan Belanda, dan lain sebagainya, dan awalnya berbentuk LSM dan pada tahun 2000 baru mulai berubah menjadi PT (Perseroan Terbatas).
"Perkembangannya stasiun radio ini cepat sekali, dulu hanya tujuh stasiun radio yang me-relay berita kami, sekarang sudah hampir 800 yang me-relay. Dan bukan hanya di Indonesia tetapi juga di 10 negara di Asia (Kamboja, Thailand, Myanmar, Filipina, Afganistan, Pakistan dan Bangladesh, Nepal dan Pakistan), karena kami juga memilki program untuk Asia," ujar Santoso.
Stasiun radio yang berdiri pada April 1999, bertempat di Utan Kayu ini memiliki misi yaitu menyediakan informasi yang baik pada masyarakat Indonesia melalui radio. Dengan mengedepankan program-program jurnalistik seperti berita, talk show, dan lain-lain.
Namun, agar program berita yang selama ini identik membosankan dikemas dengan membuat berita yang lebih menarik tanpa menghilangkan standar jurnalisme.
Santoso mejelaskan latar belakang lahirnya stasiun radio ini adalah karena melihat kekosongan yang terjadi pada pemberitaan melalui radio paska reformasi 1998. Saat era Orde Baru memang siaran berita melalui radio sangat dibatasi dan hanya RRI (Radio Republik Indonesia) saja yang boleh direlay oleh stasiun radio swasta. Namun ketika sudah reformasi dan adanya kebebasan dan keterbukaan informasi, momentum inilah yang ia jadikan awal untuk membuat program berita sendiri.
Sebelum menjadi seorang entrepreneur, Santoso adalah seorang wartawan dan tidak pernah terpikir menjadi seorang wirausaha. Namun, karena faktor melihat kebutuhan akan informasi itulah yang membuatnya memulai usaha ini. Tapi ia mengaku tetap ingin menjadi seorang wartawan, karena tetap memberikan informasi.

By: Adetya Nuzuliani

Sumber:
http://bisnis.news.viva.co.id/news/read/190695-ini-wartawan-juara-ernst-and-young-2010

Haris Purnawan : Membangun Desa Lewat Wirawisata

1 comments

Haris Purnawan, pria lajang yang berusia 24 tahun, merasa terusik nuraninya menakala melihat teman-teman dan pemuda di desanya yang menganggur dan menjadi faktor penyebab tindakan dan perilaku negatif. Sementara di sisi lain, Haris melihat potensi alam Desa Bejiharjo yang terletak di pinggiran kota Wonosari. Desa Bejiharjo berada di sebelah timur kota Yogyakarta dengan jarak sekitar 45 KM atau jika menggunakan kendaraan, mampu menghabiskan waktiu sekitar 2 jam lamanya.
Haris sempat bekerja selama 3 tahun sebagai karyawan pabrik di Jakarta, lalu dia terpikir dan meyakinkan dirinya untuk pulang dan membangun desa tempat dia berasal. Bersama pemuda Karang Taruna di desanya, ia kemudian menggagas wirawisata.
Aksinya dimulai pada Mei 2010 dengan mengajak para pemuda desa bergabung dengan Karang Taruna untuk merencanakan pemanfaatan gua Pindul sebagai obyek wisata. Bersama gabungan Karang Taruna tersebut, Haris mengajarkan dan mengarahkan tentang sadar wisata, yaitu dengan melatih para pemuda menjadi pemandu susur gua serta penanaman pengetahuan sejarah tentang gua Pindul. Hasil kerja keras ini mampu mengundang rata-rata sekitar 500 pengunjung wisata gua Pindul setiap bulannya.
Usaha ini berdampak langsung dalam penyerapan tenaga kerja yang mencapai 380 orang masyarakat sebagai karyawan, kesempatan membuka lapak penjualan makanan, pemberdayaan PKK sebagai unit jasa konsumsi, pemberdayaan kendaraan warga sebagai shuttle van/truck pengangkut wisatawan, pemberdayaan rumah warga sebagai homestay, pemberdayaan kelompok seni budaya seperti kerawitan, rebana, wayang sodo dan pentas wayang beber hingga hiburan electone yang seluruhnya menjadi bukti pemberdayaan langsung masyarakat sekitar desa tersebut. Jangkauan manfaat juga dirasakan masyarakat pada radius belasan bahkan puluhan kilometer, di mana masyarakat menjadi jasa pengantar ke lokasi wisata.
Hasil pendapatan wirawisata juga dikembalikan kepada masyarakat dalam bentuk fasilitas umum, seperti perbaikan dan pengaspalan jalan, pemberian bantuan tunai Rp 50.000 setiap bulannya untuk 50 KK masyarakat yang kurang mampu, serta pembangunan dan pengelolaan PAUD gratis bagi anak-anak desa.
Tidak berhenti dengan wisata gua Pindul, Haris juga memanfaatkan potensi sekitarnya menjadi wirawisata tambahan seperti river tubing di kali Oya, caving di Gua Sioyot dan terakhir pada bulan Juli kemarin membangun Omah Outbond sebagai kawasan terpadu. Kedepannya ia ingin menggali potensi dari sisi budaya, misalnya saja mengangkat budaya asli dari dusun Gelaran yakni Wayang Beber yang merupakan budaya tua peninggalan jaman Majapahit.
Dengan visi mensejahterakan masyarakat di desanya, Haris telah berhasil mengenalkan wisata alternatif di desanya. Jumlah pengunjung ke desanya setiap tahun terus meningkat, hal ini jelas berdampak pada desanya yang semakin berkembang lewat wirawisata.

Oleh : Darastri Latifah


Sunarto Atmo Taryono : Memberdayakan Petani Desa Ender

0 comments

Sunarto Atmo Taryono (Kanan)
Keprihatinan terhadap nasib petani yang selalu tak berdaya oleh cengkeraman tengkulak dan permainan harga pedagang membawa Sunarto Atmo Taryono, pegusaha sukses di Jakarta, kembali ke kampung, tepatnya ke Desa Ender, Pangenan, Cirebon, Jawa Barat.
Di Desa Ender, dia mendirikan Koperasi Nusantara Jaya dengan modal awal dari hasil tabungan selama bekerja di Jakarta. Dibantu enam karyawan, ia memulai kerja kerasnya dengan mengajak para petani di daerah sekitar untuk bergabung dan membangun koperasi.
Awalnya sulit karena petani umumnya telah lama bekerja sasma dengan tengkulak. Meski tercekik tengkulak, petani enggan berubah.
Sunarto menyadari bahwa citra koperasi tak selalu baik karena dituding hanya menguntungkan pengurusnya. Ia membuat konsep koperasi simpan pinjam dipadukan dengan bengkel tani yang menyediakan jasa konsultasi dan penyuluhan teknis produksi. Ia melengkapi koperasi dengan menyediakan sarana produksi pertanian, seperti pupuk, obat-obatan,dan peralatan.
Sunarto merekrut para ahli lulusan perguruan tinggi sebagai tenaga penyuluh. Para petani yang selama ini tak pernah mendapatkan penyuluhan teknis produksi dari pemerintah seolah melepas dahaga. Petani tak hanya mendapat informasi tentang apa yang yang diperlukan untuk mengobati penyakit tanaman, tetapi juga pendampingan, mulai dari menggarap lahan, menanam bibit, hingga panen.
Petani diajari cara berproduksi secara modern dengan sistem usaha tani berbiaya rendah, efektif, efisien, dan menguntungkan. Semua jasa konsultasi dan pendampingan gratis. Sunarto tidak mau membebani petani. 
Sistem produksi yang diperkenalkan bengkel tani Nusantara Jaya itu langsung membuahkan hasil. Tanaman padi, bawang, dan jenis lainnya yang ditanam petani jarang terkena penyakit. Tingkat produksinya lebih tinggi dibandingkan dengan panen sebelumnya.
Para tenaga penyuluh Sunarto selalu berkonsultasi dengan peneliti pertanian di perguruan tinggi. Mereka selalu update hasil riset pertanian terkini.
Keberhasilan petani binaan Koperasi Nusantara Jaya pun menjadi pembicaraan di kalangan petani, bukan hanya di daerah sekitar, melainkan juga di daerah lain.
Dalam waktu singkat, para petani plasmabinaan Nusantara Jaya bertambah banyak. Hingga kini bergabung 900 petani dengan total luas lahan garapan sekitar 500 hektar. Para petani itu tersebar di sentra pertanian di Cirebon, Majalengka, Kuningan, dan Brebes.

Edited by Tundzirawati

Sumber: http://sutarko.blogspot.com/2010/07/sunarto-memberdayakan-petani.html

Ummu Salamah : Pendidikan Taman Kanak-Kanak

0 comments

Lahir di Garut, 4 April 1948. Selain pernah sebagai dosen juga pernah menjadi ketua Lembaga Pengembangan Kesejahteraan Masyarakat Garut. Ummu percaya bahwa seberkas hasrat dan keberhasilah pada seorang anak dapat menyalakan proses pertumbuhan bagi seluruh keluarga. Di kalangan masyarakat pedesaan yang miskin di Garut, Jawa Barat, ia membantu para orang tua membangun harapan baru bagi masa depan anak mereka. 

Dalam jangka waktu yang cukup lama, memfokuskan perhatian sosialnya pada program penyaluran modal pendidikan dan modal kerja tambahan bagi kelompok keluarga pedagang kecil, buruh, tukang becak, dan buruh tani. Berawal dari membuat taman bermain bagi pra-sekolah dan kelompok belajar bagi anak-anak berusia yang lebih tinggi yang memerlukan bantuan akademik serta kegiatan ekstrakurikuler, Ummu lalu mengembangkan pengaruh kreatif anak-anak tersebut agar bisa memotivasi keluarga masing-masing untuk meningkatkan hidup keluarga.

Ide “memberikan bantuan kepada orang tua melalui pintu anak” yang cukup sederhana itu dinilai orisisil oleh Unicef yang memberinya penghargaan, terlebih lagi karena ide tersebut berhasil memicu peningkatan kualitas hidup keluarga kurang mampu di sekitarnya. Ummu telah melatih stafnya untuk melaksanakan program tersebut di daerah lain di Indonesia.

Edited by Lina Lisnawati

Suti Rahayu: Sejahtera Bersama Singkong

0 comments

Berawal dari keprihatinan dengan potensi singkong di Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Suti Rahayu (58) menjadi rujukan ratusan ibu rumah tangga, peneliti, hingga petani dalam dan luar negeri. Mimpinya membawa singkong menopang hidup masyarakat Indonesia. 
Potensi singkong di Gunung Kidul terbilang besar, mencapai 850.000 ton per tahun dengan harga jual Rp. 1.000; per kilogram. Pada saat itu (sebelum tahun 2003) singkong lebih banyak diolah menjadi gaplek atau sekadar menjadi makanan ternak.
Suti Rahayu (kanan)
Menurut Suti Rahayu, singkong tidak hanya dapat menambah penghasilan ekonomi, singkong bisa ikut berperan memperkuat ketahanan pangan masyarakat Indonesia. Ia menemukan fakta banyak ibu-ibu di sekitar tempat tinggalnya yang menganggur. Akibatnya tidak sedikit di antara mereka hidup dalam keterbatasan karena hanya bergantung pada penghasilan suami. Mayoritas warga Sumberjo bekerja sebagai petani dengan pendapatan kurang dari Rp 1 juta per bulan.
Suti pun kemudian berpikir untuk menggabungkan keduanya untuk hasil yang lebih baik. Dia tidak berhenti hanya pada wacana, Suti segera mencari jalan untuk memberdayakan masyarakat di sekitarnya.
Awalnya tidak mudah memperkenalkan makanan olahan singkong kepada ibu-ibu. Sebagian besar beralasan, mereka tidak bisa membagi waktu dengan kesibukan di rumah. Suti tidak menyerah. Lewat arisan dan simpan-pinjam ia selalu menawarkan emping melinjo yang ia buat dan pasarkan sebelumnya. Perlahan 
Perlahan mereka melihat keuntungan dari penjualan emping melinjo yang dijual Rp 10.000 per kilogram, kemudian 21 orang menyatakan ingin belajar. Nama Putri 21 diambil dari jumlah keanggotaan kami saat itu. Pengembangan pertama adalah emping melinjo dan keripik pisang.
Salah satu pelajaran berharganya adalah pengolahan mocaf (modified cassava flavour). Mocaf adalah tepung singkong yang sudah menjalni proses fermentasi. Modifikasi itu ampuh mendongkrak nilai ekonomi singkong. Ia mencontohkan, harga jual singkong kini hanya Rp 1.000 per kg. Bila singkong diolah menjadi tepung mocaf, harganya mencapai Rp 6.000 per kg. Nilai ekonominya bahkan lebih tinggi bila tepung mocaf diolah menjadi kue kering. Satu kilogram mocaf cukup untuk membuat 2 kilogram kue kering yang dijual Rp 30.000 per kg.
Sejalan dengan mimpinya, usaha pembuatan tepung mocaf dan makanan olahannya perlahan memberikan keuntungan bagi ratusan petani singkong Gunung Kidul. Saat ini, sebanyak 22 kelompok tani singkong dan umbi-umbian di Gunung Kidul menjadi mitra kerjanya. Dalam sebulan, ia membutuhkan 8 ton singkong untuk bahan baku usahanya. Kiprah Putri 21 juga memicu munculnya pabrik pengolahan mocaf di lima kecamatan di Gunung Kidul.
Lewat berbagai percobaan, ia hanya mengambil kulit arinya. Selanjutnya, lewat proses fermentasi dan pengolahan bersama tepung mocaf, kulit singkong tersebut dijadikan keripik. Bukan hanya mocaf dan kulit singkong, Putri 21 juga mengembangkan sekitar 30 jenis makanan olahan berbahan umbi-umbian, kacang-kacangan, hingga bonggol pisang.

Edited by Tundzirawati

Sumber: http://sutarko.blogspot.com/search?updated-min=2012-01-01T00:00:00-08:00&updated-max=2013-01-01T00:00:00-08:00&max-results=50

Tatiek Kancaniati : Memberdayakan Tegalwaru menjadi Kampung Wisata

0 comments

Tatiek Kancaniati
Ibu Tatiek melihat Desa Tegalwaru, Ciampea, Kabupaten Bogor ini memiliki potensi sebagai Kampung Wisata sejak lama. Banyaknya wirausaha yang dilakukan penduduk-penduduk di Desa Tegalwaru adalah salah satunya. Ibu Tatiek sendiri sudah memiliki usaha Nata de Coco, jadi dibentuklah Kampung Wisata Bisnis Tegalwaru.
Ibu Tatiek berkisah, ujian ketika awal mengelola Kampung Wisata ini cukup berat. Dia mengaku sempat berhadapan dengan oknum aparat yang memeras Yayasan Kuntum yang mengelola kampung tersebut
Banyak sekali tantangannya dalam mengelola Kampung Wisata ini, tapi dibalik kesulitan itu selalu ada kemudahan. Sampai saat ini Kampung Wisata Bisnis Tegalwaru telag dikunjungi sekitar 15.000 orang, omzet total yang didapat pelaku UKM di Tegalwaru mencapai Rp 2,2 miliar per bulan.

Edited by Lina Lisnawati

Gambar:
http://peluangusaha.kontan.co.id/news/tatiek-persembahkan-kampung-wisata-bisnis-bagi-ukm
http://swa.co.id/entrepreneur/tatiek-kancaniati-perintis-kampoeng-wisata-bisnis-tegalwaru

Susiawan : Pendidikan Alternatif untuk Anak dan Remaja Perkampungan

0 comments

Susiawan
Dia merintis dan mengembangkan konsep/metoda “Pendidikan Anak Merdeka” — suatu proses dialogis pengembangan kreativitas, kemandirian, kemasyarakatan, demokratisasi dan kemerdekaan — melalui pendekatan seni, lingkungan hidup dan kebudayaan lokal. Hasil riset aksi enam tahun itu ditulis dalam skripsi kesarjanaan FSRD-ITB: “Kemungkinan Konsep Senirupa sebagai Alat Pendidikan, Luar Sekolah untuk Anak-anak Perkampungan” (1986).Pada awalnya (1981) mendirikan “Kelompok Olah Seni Anak-anak Merdeka”. Lalu bersama rekan-rekannya melembagakan “Yayasan Anak Merdeka” (1987).
Pada tahun kedua “masa fellow Ashoka” (1989) merintis “Bengkel Kreatif” bagi remaja, dan mengawali kegiatan anak jalanan dengan majalah Anak Merdeka “Cakrawala Kecil”.1990-1995 melanjutkan riset aksinya dalam program “Anak Cinta Lingkungan” — membangun kurikulum dan berkegiatan bersama guru — guru SD/MI, anak-anak, remaja dan masyarakat di daerah perkotaan. Sebelumnya telah diujikan di beberapa desa di Sumatera dan Irian Jaya. Berbagai disiplin seni/kesenian dan budaya lokal diangkat sebagai katalisator pengembangan “seluruh potensi” anak.
Dalam satu tahapan proses tiga tahun, anak-anak/remaja mampu mempertajam “kemampuan nyata” mereka masing-masing.Sejak pertengahan 1995 tinggal di Kanada, berkeluarga. Mendalami “Integrated Arts” dan “Holistic Education” secara independen dan observasi ke berbagai sekolah alternatif. Ikut membangun “LSM Lingkungan”; bekerja untuk anak-anak golongan bawah sebagai “Integrated Arts Artist Facilitator” di Community Center dan organisasi sosial anak-anak internasional, serta mengadakan lokakarya-lokakarya “Expressive and Healing Art/ Art Therapy/ Integrated Arts” di rumah singgah, kelompok kegiatan pemuda maupun di pusat kegiatan kreatif anak-anak di Toronto. Merencanakan kembali ke tanah-air melanjutkan obsesinya: mengembangkan “Pendidikan Anak Merdeka”, dengan memusatkan energinya pada: — Membangun/mengembangkan kurikulum (kegiatan) pendidikan alternatif;
  • Mengadakan pelatihan calon/fasilitator/pendidik anak-anak dan remaja;
  • Merintis/mengembangkan pos-pos kegiatan anak-anak dan remaja bersama para fasilitator;
  • Mengadakan advokasi masalah hak-hak anak-anak dan remaja lewat aksi maupun penyebaran informasi;
  • Mengembangkan jaringan kerja antar LSM lokal,regional,nasional dan internasional, terutama yang berfokus pada masalah anak-anak dan remaja.

Edited by Lina Lisnawati

Gambar: http://www.ubudwritersfestival.com/writers/susiawan/

Sri Wahyaningsih : Pendidikan masyarakat pedesaan

0 comments

Lahir di Klaten, 19 Desember 1961. Wahya, lulusan Akademi Keuangan & Perbankan memulai pengalaman di dunia LSM sebagai tenaga organisator lapangan di LPM UKDW Yogyakarta, dengan pendampingan kelompok tunawisma sebagai salah satu program lapangannya. Di Indonesia, sistem pendidikan rancangan pemerintah yang terpusat di kota telah mengasingkan para siswa yang tinggal di daerah pedesaan.
Kurikulum yang diterapkan yang sering tidak dapat diperoleh di daerah pedesaan, semakin mempertinggi nilai masyarakat dan kehidupan urban dimata mereka yang tinggal di daerah pedesaan. Hal ini menyebabkan nilai-nilai yang mereka pegang teguh jatuh. Wahya melihat fenomena semacam ini di desanya, desa Lawen, Banjarnegara, di Jawa Tengah. Ia kemudian memperkenalkan suatu metoda pendidikan yang sangat berbeda dan bersifat partisipatif dengan menggabungkan ilmu membaca dengan pertistiwa-peristiwa terkini, keahlian, ilmu pengetahuan, dan seni.
Tahun 1988 Wahya ikut mendirikan Sanggar Anak Alam (SALAM) dengan basis kegiatan di desa Lawen, Banjarnegara. SALAM adalah salah satu media Wahya dalam mengimplementasi konsep ‘desa’ dan ‘alam semesta’ sebagai media belajar sekaligus sekolahan, dengan kelompok perempuan sebagai pelaku penting bagi pendidikan anak-anak.. Semua bahan pengajarannya berasal dari masalah-masalah dan situasi-situasi nyata ketika berhadapan dengan masyarakat; metode yang digunakannya dalam hal ini tidak hanya relevan melainkan juga menyenangkan. Para siswanya bekerjasama satu sama lain serta dengan para pengajar sukarela mereka. Proyek-proyek kelompok seperti pengembangbiakkan kelinci atau ternak mampu menciptakan penghasilan bagi para siswa sekolah tersebut dan meningkatkan rasa percaya diri mereka sehingga membuat mereka merasa betah dan dihargai oleh masyarakatnya dan memberi sumbangan pada peningkatan ekonomi desanya. Wahya, sebagai ketua RT 04 di kampung Lawen, mengembangkan Koperasi Karya Aji Nastiti yang bergerak di bidang simpan-pinjam. Dengan beranggotakan 60 orang yang 90% anggotanya adalah perempuan, Wahya mengembangkan pelatihan kompos organik yang bekerjasama dengan Yayasan Dian Desa (Yogyakarta). Dengan program ini diharapkan adanya peningkatan kualitas kebersihan lingkungan dan membuka lapangan kerja untuk masyarakat desa.

Edited by Lina Lisnawati

Gambar: http://www.tupperware.co.id/SheCan/Default.aspx?page=detailAlbum&album=335

Samsidar : Pejuang Perempuan Korban Konflik Aceh

0 comments

Samsidar
Samsidar membangun kembali jalinan komunitas di Aceh, saat anyaman sosial telah dirusak oleh 30 tahun konflik bersenjata, pemerintahan militer, dan bencana alam. Dia mengaitkan korban perempuan satu sama lain untuk mempromosikan penyembuhan, kemudian membantu mereka terhubung kembali dengan keluarga dan perempuan lain dalam komunitas seiring upaya membangun kembali kehidupan.
Samsidar percaya bahwa perempuan korban konflik dan bencana di Aceh memiliki kapasitas tidak hanya untuk bertahan hidup, melainkan untuk membangun kembali kehidupan mereka dan berhasil. Untuk melakukan hal tersebut, mereka harus mulai menyembuhkan diri secara individu maupun kolektif, mengembalikan kepercayaan, dan menumbuhkan kembali infrastruktur komunitas mereka. Samsidar membantu para perempuan merancang solusi bagi masalah yang diakibatkan oleh hilangnya dan terkikisnya kepercayaan sosial. Dia mulai dengan mengumpulkan kelompok perempuan yang paling rentan  — mereka yang tinggal dalam kamp pengungsi dan mengalami kekerasan domestik dan pelecehan seksual tingkat tinggi, seringkali yang dilakukan oleh polisi dan petugas militer. Para perempuan ini membagikan pengalaman mereka kepada kelompok sebaya, menyusun prioritas nilai dan kebutuhan mereka untuk pulih, dan menerima bantuan untuk menjangkau tujuan tersebut. Samsidar mengembangkan kelompok dukung sebaya yang membantu perempuan membangun rumah sementara, menjamin pendidikan bagi anak-anak mereka – yang kebanyakan putus sekolah – dan memulai mengalami pemulihan ekonomi. Samsidar menambahi sumber daya lokal dengan bantuan tepat sasaran dari para rekan di sektor warga.
Samsidar sadar bahwa para perempuan di kamp akan sangat terkuatkan oleh dukungan dari mereka yang belum kehilangan rumah atau mengalami kerusakan setara. Saat mantan tetangga berkumpul dan menemukan kembali kesamaan nilai, mereka yang lebih beruntung seringkali mulai mendokumentasikan tindakan brutal kalangan polisi dan militer yang dialami para saudari mereka. Samsidar mengembangkan kemampuan orang awam untuk menjadi perantara legal sebagai cara untuk melakukan lobi hak perempuan korban di tingkat legal. Bersama-sama mereka membangun kepercayaan, solidaritas, dan interdependensi.
Samsidar menambahkan upaya lokal untuk membangun jalinan komunitas dengan upaya membangun lembaga yang berkelanjutan untuk memengaruhi kebijakan nasional. Dia menghidupkan kembali lembaga lokal Brakalai Syura Ureng Inong Aceh, ruang publik tradisional untuk perempuan. Komisi Nasional Kekerasan terhadap Perempuan mengadopsi mekanisme berbasis korban yang diterapkannya untuk melaporkan dan mendokumentasikan pelanggaran hak sipil, dan mulai menyebarkan metoda ini ke daerah lain di Indonesia. Dia juga mengembangkan sistem referal sehingga polisi, organisasi warga, dan penyedia layanan kesehatan dapat berkoordinasi untuk memenuhi kebutuhan perempuan korban.
Selain perempuan korban, yang tak kalah penting adalah sistem dukungan komunitas yang dicoba dibangun oleh Samsidar. Melalui RPUK (Relawan Perempuan untuk Kemanusiaan), dia mengembangkan kegiatan relawan di antara aktivis hak perempuan dan korban perempuan sebagai kelompok dukungan sebaya. Untuk menyediakan dukungan kemanusiaan di daerah konflik, para relawan perempuan ini dilatih agar dapat berlaku adil melalui keterampilan fasilitasi dalam mendukung perempuan korban tanpa menumbuhkan ketergantungan. Di antara perempuan korban, sebagai pilihan lain, muncul juga kesepakatan untuk bekerja sama melalui kelompok simpan pinjam. Ratusan perempuan dari 5 daerah di seluruh Aceh bergabung dan bekerja dalam 7 kelompok. Seorang perempuan dapat memperoleh pinjaman untuk menjalankan usaha kecil yang diawasi oleh kelompok tersebut.
Dalam hal prosedur hukum, sementara orang lain berfokus pada pelanggar HAM, Samsidar berkonsentrasi pada perempuan korban dan cara masyarakat mendukung para korban ini. Bekerjasama dengan LBH APIK Aceh, tempat dia menjadi salah satu anggota Dewan Etik, Samsidar membangun dukungan berbasis komunitas dengan melatih paralegals. Dengan demikian Samsidar mengundang para keluarga korban untuk tidak menambah beban, melainkan menjadi pendukung internal. Dukungan komunitas, terutama dari kelompok perempuan, nyatanya merupakan dukungan terbesar yang diperlukan oleh korban dan keluarga. Untuk paralegal khusus, dia menyelenggarakan pelatihan dalam bidang prosedur litigasi, persiapan korban untuk dapat bicara di hadapan polisi, dukungan psikologis bagi individu, dan konseling kelompok. Kelompok perempuan ini kemudian menjadi sistem pendukung bagi perempuan korban untuk dapat pulih dari tekanan traumatis, meraih kekuatan tawar dalam proses negosiasi, dan meraih kembali kepercayaan diri dan kemerdekaan atas hak mereka menentukan masa depan sendiri.

Edited by : Lina Lisnawati

Sumber: http://indonesia.ashokalab.org/fellow/samsidar