Kewirausahaan Sosial

0 comments

Pengertian Kewirausahaan 
Secara harfiah, kewirausahaan adalah kegiatan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat dalam artian meningkatkan hidup yang lebih baik dan bermutu. Kewirausahaan sangat besar peranannya di dalam peningkatan ekonomi nasional. Untuk mewujudkan peningkatan ekonomi tersebut, maka diperlukan para wirausaha yang handal sehingga mampu memberi dorongan niat kepada masyarakat untuk berwirausaha. Kegiatan wirausaha pada umumnya yaitu membuka lapangan kerja sebanyak-banyaknya dan menumbuhkan niat berwirausaha. 

Pengertian Sosial
Sosial dapat diartikan secara kemasyarakatan. Sederhananya sosial adalah suatu hubungan yang diwujudkan melalui interaksi antar individu-individu, individu-kelompok, kelompok-kelompok. Dan sosial juga dapat dibentuk melalui tindakan yang berdasarkan norma dan nilai yang berlaku dan diterapkan di dalam masyarakat. Hubungan interaksi itu sendiri dapat berlangsung dengan baik jika aturan dan nilai yang ada dapat disesusaikan dengan baik. Dalam hal ini, manusia di kehidupan sehari-sehari tidak terlepas dari hubungan antara satu dengan yang lainnya dan akan selalu perlu untuk mencari individu atau kelompok lain untuk melakukan interaksi ataupun bertukar pikiran. Oleh karena itu, kunci semua kehidupan sosial adalah dengan melakukan interaksi. Karena pada dasarnya, untuk berperilaku sosial, dengan cara berinteraksi lah kita bisa mewujudkan pencapaian tujuan masing-masing dan menjalankan proses kehidupan. Tanpa adanya interaksi, kegiatan-kegiatan antar satu individu dengan yang lain tidak dapat berjalan dengan baik.       
Jadi, kewirausahaan sosial adalah suatu kegiatan yang berorientasi sosial non-profit yang menggabungkan antara kecerdasan berbisnis, inovasi, dan tekad untuk maju ke depan. Untuk mewujudkannya, diperlukan wirausahawan sosial yang aktif melihat peluang untuk membentuk sebuah model bisnis baru yang bermanfaat bagi pemberdayaan masyarakat sekitar. Tujuan utama yang ingin dicapai bukan profit semata, melainkan bagaimana penyampaian ide-ide sosial dapat memberikan dampak baik bagi masyarakat dan secara garis besar, dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi secara nasional. Ternyata, wirausaha sosial itu berbeda dengan wirausaha biasa. Wirausaha biasa hanya fokus terhadap keuntungan materi dan kepuasan pelanggan. Sementara wirausaha sosial tidak hanya fokus pada keuntungan semata, melainkan juga dapat memberdayakan masyarakat, meningkatkan kesejahteraan individu maupun kelompok, memberikan kebutuhan sesuai dengan keadaan di dalam masyarakat dengan cara memberikan ide-ide sosial lalu mengimplementasikannya secara berkelanjutan.       

By : Andityaputra Muhammad

Komunitas Pelangi Nusantara

0 comments

Komunitas Pelangi Nusantara
Bisnis, tidak hanya melulu soal laba. Melaui bisnis, kita juga dapat membantu sesama melalui kegiatan kewirausahaan social. Itulah yang dilakukan oleh Ibu Noor Suryati (42), seorang pebisnis yang bergerak di bidang garmen asal Singosari, Malang, Jawa Timur. Ibu Noor, begitu dia biasa disapa memberdayakan ratusan ibu-ibu  dan perempuan setempat untuk memproduksi berbagai produk seperti  tas, dompet, taplak meja, dan sarung bantal dari limbah kain bekas. Usaha bernuansa sosial yang mulai dirintis pada tahun 2008 dan dipatenkan pada tahun 2001 ini, dapat membantu memperbaiki perekonomian banyak keluarga di Singosari, Malang. Noor meruturkan bahwa meningkatkan taraf ekonomi bukan satu-ssatunya tujuan didirikannya komunitas ini. Melainkan juga memberdayakan para anggota komunitas karena pertemuan menjadi ajang berbagi pengetahuan para anggota. 
"Ini sama saja dengan mengalihkan perhatian pada masyarakat, yang semula mereka kurang kegiatan dan ujung-ujungnya memilih menikah muda sekarang mereka sudah mengerti dan terampil," ujar Noor Suryanti seperti yang diterbitkan oleh surat kabar Warta Kota (1/4).
Komunitas Pelangi Nusantara kini menampung sekitar 150 anggota, terdiri dari 15 kelompok, sudah menghasilkan Rp 10 juta per kelompok. Nilai itu semua diperoleh dari penjualan produk yang mereka buat, mulai harga Rp 10.000 sampai Rp 2,5 juta.
Berkat kegiatannya memberdayakan masyarakat setempat secara ekonomi dan sosial itu, maka Ketua Komunitas Pelangi Nusantara itu terpilih sebagai pemenang Community Enterpreneurs Challenge untuk kategori Pemula (start-up), yang diselenggarakan oleh Arthur Guinnes Fund dan British Council.

By : Anis Soraya

Sumber : pelanusa.blogspot.com
Gambar : www.nihdia.com

Goris Mustaqim : Pemuda Membangun Bangsa Dari Desa Dengan Kewirausahaan Sosial

1 comments

Indonesia merupakan negeri dengan segudang potensi  yang terus betah pada status negara berkembang. Pembangunan yang pesat hanya terjadi di kota-kota besar saj. Putra terbaik daerah berbondong-bondong bermigrasi ke Jakarta, hingga daerah asalnya menjadi tidak berkembang bahkan tertinggal. Kunci pemerataan inilah  dan partisipasi pembangunan pada era otonomi daerah adalah pembangunan daerah. Hanya dengan pembangunan daerahlah, bangsa ini akan maju, dengan sumber pertumbuhan ekonomi yang sesuai dengan potensi setempat.hal ini akan menarik putra-putri terbaik daerah untuk kembali kedaerah asalnya, yang akan menciptakan multiflyer effect.
Sudah lama pembangunan Indonesia kehilangan arah. Desa yang notabene menjadi asal dari berbagai faktor produksi,potensi, bahkan asal dari manusia Indonesia itu sendiri, diabaikan. Disisi lain, tantangan memajukan daerah harus menjadi tantangan pemimpin daerah atau pada generasi muda asli daerah untuk percaya diri menunjukkan prestasi  sekaligus mengabdi pada pembangunan bangsa ini. 
Goris Mustaqim
ASGAR MUDA tergerak untuk mewujudkan konsepsi diatas dalam tataran amal dilapangan dan menfokuskan upayanya dalam tiga bidang yaitu: (1) pendidikan, (2) kewirausahaan pemuda, (3) community development.  Dalam konteks ini , ASGAR MUDA ingin menunjukkan bahwa sebuah daerah  asal atau kampung halaman, tidak hanya menjadi tempat menghabiskan masa tua semata, tapi juga tempat berkarya dan membangun penghidupan tidak hanya bagi diri sendiri tapi juga bagi orang lain.
Di bidang pendidikan, ASGAR MUDA meyakini tidak akan ada kemajuan daerah tanpa generasi yang pintar serta berkarakter. Program pendidikan ini bukan merupakan pendidikan formal, melaikan pendidikan berbasis komunitas atau bimbingan belajar yang berpusat di Garut Learning Centre (GLC) dengan program Supercamp. Alasan yang mendasari adalah betapa banyaknya SDM di daerah yang gugur ditengah jalan karena keterbatasan ekonomi atau pola pikir orang tua yang tidak maju.
Mengapa kewirausahaan pemuda? ASGAR MUDA meyakini bahwa solusi dalam meningkatkan kesejahteraan masayarakat ini adalah melalui jalan kewirausahaan. ASGAR MUDA bertindak sebagai inkubator informal yang memfasilitasi pemuda yang ingin mengembangkan usahanya dengan berbagai pelayanan seperti akses pendanaan,pelatihan, dan sebagainya. 
Tak hanya itu, ASGAR MUDA juga membuat model-model community development melalui beberapa usaha sosial.contohnya melalui Baitul Mal Wal tanwil yang merupakan lembaga keuangan mikro yang berlandaskan sistem syariah.
Pembanguanan daerah tidak dapat dilakukan sendiri, sehingga semua yang dijalankan oleh ASGAR MUDA menggunakan prinsip kemitraan. Dibutuhkan kerjasama erat anatara semua elemen yang menginginkan hal ini terwujud.

By : Lina Lisnawati

Sumber Mustaqim, Goris, dkk. 2013. Young Social Entrepreneur Indonesia. Dompet Duafa: Ciputat.

Gambar : thejakartapost.com

Potret Wirausaha Sosial di Indonesia

1 comments

Dapat dikatakan Indonesia mempunyai segudang masalah, pengangguran, kemiskinan, tidak meratanya jaminan sosial, dan sebagainya. Sebagian besar masyarakat menyalahkan pemerintah, dan hal itu masalah yang harus diatasi oleh pemerintah. Di balik anggapan demikian, muncul tokoh-tokoh yang peduli akan solusi dari permasalahan di Indonesia. Mereka memunculkan solusi-solusi demi kemajuan Indonesia. Solusi-solusi tersebut diciptakan dari sebuah gerakan yang dinamakan kewirausahaan sosial. Berikut tokoh-tokoh kewirausahaan sosial di Indonesia : 

1. Sandiaga Uno 
Dikutip dari sosok.kompasiana.com  Nama Sandiaga Uno melambung sebagai wirausahawan muda berbakat dari Indonesia beberapa tahun terakhir ini. Beliau juga merupakan pengusaha yang dekat dengan kalangan usaha kecil menengah dan koperasi.
Mengutip Forbes, Wikipedia memuat laman bahwa “Salahudin Sandiaga Uno, also knowns as Sandi Uno (born in Rumbai, Pekanbaru on June 28, 1969) is one of Indonesia’s richest men with estimated net worth of $795 million”. Kira-kira tahun 2012 kemarin ini, beliau menempati posisi ke-37. Luar biasa untuk ukuran wirausaha muda seperti beliau.
Sandiago Uno berusaha keras dengan menjadikan kewirausahaan sosial (socio enterpreneurship) sebagai jalan raya keberhasilan dengan membangunkan banyak potensi wirausaha para pemuda Indonesia. Beliau mendirikan AKSI (Asosiasi Kewirausahaan Sosial Indonesia) dan berbagai gerakan kepemudaan terkait kewirausahaan lainnya.
Kiprah Sandiaga Uno, UC amati dilakukan melalui tiga gerakan sosial, yaitu : Pertama, Yayasan Inotek. Yayasan ini diharapkan oleh Sandi sebagai lembaga yang handal dalam memfasilitasi pengembangan dan penyebarluasan teknologi inovatif dan kewirausahaan teknologi untuk peningkatan kehidupan masyarakat. Dengan berbagai program kemitraan dalam rangka pengembangan dan juga pelatihan pendampingan dalam penerapan teknologi-teknologi inovasi baru di masyarakat, membantu pengentasan kemiskinan dengan cara mendukung aktifitas pendidikan kewirausahaan teknologi untuk penyebarluasan teknologi aplikatif bagi masyarakat. Kedua, melalui Mien R Uno Foundation menyalurkan beasiswa kewirausahaan bagi banyak mahasiswa yang tertarik menjadi pengusaha sejak kuliah. Selain beasiswa, mahasiswa juga dibimbing dan dilatih dalam mengembangkan usahanya. Ketiga, melalui gerakan sosial misalnya yaitu Indonesia Setara, yaitu gerakan untuk membangun pola pikir percaya diri, bahwa rakyat Indonesia bisa dan mampu berprestasi untuk kemajuan bangsa. Langkah awal, akan fokus pada bidang yang terkait sosial ekonomi, kewirausahaan, dan pendidikan.Adapun institusi yang telah berafiliasi dengan Indonesia Setara (via MRUF, INOTEK, ASA, dan AKSI) akan bekerja sesuai dengan bidangnya masing-masing, didukung oleh Indonesia Setara. Lalu ada lagi, Berlari untuk Berbagi yang merupakan komunitas sosial, kumpulan orang-orang pecinta olah raga lari yang memiliki visi sosial menyalurkan hoby sambil beramal. Program amal yang dijalankan ”Berlari untuk Berbagi” ini diwujudkan dengan mengikuti lomba lari maraton setiap tahunnya, dimana pada setiap kilometer yang ditempuh oleh team pelari BuB, Berlari untuk Berbagi menawarkan kepada individu dan perusahaan untuk memberikan donasi sejumlah nilai tertentu kepada yayasan yang dipilih dengan terlebih dahulu dijadikan dua kali lipat. Selain itu, dan juga pendirian Asosiasi Inovator muda dan ilmuwan Indonesia (AYISI), Inkubasi Nasional dan sejenisnya yang intinya merupakan gerakan-gerakan dinamis humanis yang mendorong ke arah kemajuan bangsa melalui gerakan kewirausahaan sosial secara nasional, kewirausahaan dimana ada rasa peduli terhadap sesama dan menginginkan perubahan bersama-sama.
Belakangan ini, sosok tokoh wirausaha peraih penghargaan sebagai ‘Indonesian Entrepreneur of The Year’ dari Enterprise Asia dan Fellow dan delegasi dari organisasi Asia 21 tahun 2008 ini juga menyempatkan diri menjadi brand ambassador dan kerap menjadi trainer dan pengajar di beberapa perusahaan konsultan dan perguruan tinggi. Selain itu, sosok ini juga menjadi brand ambassador perguruan tinggi teknologi seperti STTTerpadu Nurul Fikri yang mengusung konsep technopreneurship (wirausahawan di bidang teknologi) dengan fokus kepada teknologi sumber terbuka (open source technology).


2. Amin Aziz
Beliau melahirkan konsep Baitul Maal Wat Tamwill yang memberikan alternative pembiayaaan usaha mikro. Pembentukan BMT pertama dimulai tahun 1995 di Jakarta dan sampai dengan akhir 2009 sudah berdiri lebih dari 500 BMT baru.



3. Amir Panzuri
Ia berupaya mengembangkan ekspor kerajinan asal Indonesia. Ia aktif di Asosiasi Pengembangan Kerajinan dan Keterampilan Rakyat Indonesia (Apikri) berbasis di Yogyakarta. Ia membina para UKM mulai dari standar produki, penyediaan bahan baku sampai dengan pasar luar negeri. 




4. Bambang Suwerda
Ia menggagas lahirnya bank sampah di Bantul Yogyakarta. Awalnya ide ini hanya untuk menekan penularan penyakit DBD, tetapi kemudian melahirkan efek turunan yang bersih, kesadaran masyarakat akan kebersihan lingkungan meningkat dan masyarakat memiliki tabungan. Pengelolaan bank sampah seperti layaknya bank konvensional, tetapi uang tabungan berupa sampah rumah tangga yang sudah dipilah. Kemudian dikumpulkan di bank dan pihak bank yang menjualnya ke penadah sampah. Uang hasil penjualan inilah yang bisa menjadi tabungan masyarakat yang baru bisa dicairkan 3 bulan sekali.

5. Silverius Oscar Unggul
Silverius atau yang lebih dikenal oleh Bang Onte, merupakan seorang pelopor perubahan sosial di Sulawesi Tenggara yang secara nyata berhasil merangkul para pelaku illegal logging untuk terlibat secara langsung dalam penanaman pohon jati dan sertifikasi komoditas kayu untuk dijual. Melalui program ini, Bang Onte mampu memberikan keuntungan ekonomi yang lebih baik kepada masyarakat karena kayu yang telah tersertifikasi memiliki harga jual yang jauh lebih tinggi dibanding harga kayu hasil curian. Secara sosial pun, para pencuri kayu kini dengan bangga telah beralih profesi menjadi para pelindung hutan dan menghapus konflik yang acapkali terjadi diantar mereka karena berebut kayu hasil curian.

Kunci dari wirausaha sosial ialah strength based, yakni melihat kekuatan dari kelemahan-kelemahan yang ada, melihat potensi dari masalah yang timbul. Walaupun di sekeliling terdapat masalah, namun seorang wirausaha sosial dapat melihat peluang dan potensi dari masalah yang ada. Masalah yang ada, dapat dipecahkan dengan mandiri tanpa mengandalkan pemerintah. Dengan demikian, para wirausaha sosial sangat membantu perekonomian negara, dan membantu dalam menangani masalah sosial yang ada.

By : Adetya Nuzuliani

Sumber :
http://socialstasionproject.wordpress.com diakses pada 16/11/2014 9:09 WIB
Sosok.kompasiana.com diakses pada 12/11/2014 8:18 WIB

Gambar :
Berbagai sumber

1/2 Gelas Wirausaha Sosial

2 comments

Indonesia sejak zaman dahulu terkenal sebagai negara yang “kaya”, tapi sampai saat ini “kekayaannya” belum dapat digunakan secara optimal. kita dapat mengibaratkan Indonesia sebagai gelas yang ½ terisi. ½ gelas air yang mengisi merupakan beragam kekayaan yang dimiliki. Sedangkan ½ gelas yang kosong merupakan belum mampunya “kita” mengolah kekayaan alam yang ada.
Tak jarang “kekayaan” yang ada justru dinikmati dan diambil hasilnya bukan oleh pemiliknya. Malah pemiliknya yang menjadi pekerja dan tidak tanggung-tanggung mereka juga bekerja di sector yang disebut sebagai 3D sector (dirty, difficult and dangerous). Sebenarnya bukan “kita” yang tidak bisa mengolah, tapi tidak “mau”.

Sering kali kita menunggu orang lain untuk mulai bergerak, tapi sekarang udah bukan jamannya lagi. Sekarang saatnya kita bangkit dan buat perubahan! Jadi wirausaha sosial! Caranya?

Bikin usaha sendiri. Ubah pola pikir dengan lebih peka terhadap apa yang kita miliki. Jangan takut dan pantang menyerah.

Modalnya? Saat kita mau mulai usaha, sebenarnya kita sudah mempunyai modal yang paling berharga yaitu “KEMAUAN”, ya keinginan. Yakin, kalau ada kemauan pasti ada jalannya, gunakan apa yang ada. Jangan meratapi nasib dengan terus merenungkan apa yang tidak ada, tapi gunakan segala macam sumber daya. Hal kedua yang penting adalah “KEMAMPUAN”, tapi jangan karena merasa tidak mampu terus mundur. Think big! Jadi orang yang “mampu” bukan berarti harus menjadi orang yang melaksanakan. Kerjasama, jalin relasi dan manfaatkan sumber-sumber yang ada di sekitar kita, mulai dari kerabat, teman, kenala, dll.

Jadi ngga ada alasan untuk terus diam, sekarang saatnya kita mulai untuk mengisi ½ gelas kita dengan prestasi. Think big! Think positive!

By. Nurul Fadhilah Rezeki