Rhenald Kasali: Wirausaha Sosial Bukan untuk Jadi Kaya

0 comments

Tujuan menjadi wirausaha sosial (social entrepreneur) adalah semata-mata bukan untuk menjadi kaya. Kewirausahaan sosial sejatinya adalah cara melatih kepekaan untuk berbagi terhadap sesama.
Rhenald Kasali
Menurut Rhenald, banyak orang bicara tentang wirausaha, namun mereka belum tentu paham. Saat ini banyak mentor bisnis yang mengajarkan kewirausahaan dengan cara cepat kaya. “Kaya adalah akibat, bukan tujuan. Kaya adalah hasil dari kerja keras kita. Tapi dalam kewirausahaan sosial, inovasi milik Steve Jobs dan Bill Gates digabung dengan kemurahan hati Bunda Theresa, kata Rhenald Kasali.
Padahal dalam kewirausahaan sosial ada beberapa hal yang menjadi pegangan yakni misi sosial, produk atau servis yang ditukar, dan keuntungan yang dicari didistribusikan bukan untuk kepentingan diri sendiri, serta harus dapat mempertanggungjawabkan terhadap apa yang disalurkan.
Menurut Rhenald Kasali, dalam kewirausahaan sosial, tidak hanya orang kaya yang bisa berbagi. Disini, orang miskin pun bisa berbagi.
Wirausaha sosial menjadi fenomena sangat menarik saat ini karena perbedaan-perbedaannya dengan wirausaha tradisional yang hanya fokus terhadap keuntungan materi dan kepuasan pelanggan, serta signifikansinya terhadap kehidupan masyarakat.
Wirausaha sosial melihat masalah sebagai peluang untuk membentuk sebuah model bisnis baru yang bermanfaat bagi pemberdayaan masyarakat sekitar.
Sementara itu, Kukrit Suryo Wicaksono menyampaikan, seorang wirausaha harus belajar dari kegagalan. Karena itu butuh mental juara untuk menghadapi kegagalan agar tidak mudah putus asa. Gagal dalam dunia usaha itu biasa. Justru harus disyukuri. Modal utama mencapai kesuksesan adalah networking. Karena itu jalin networking seluas-luasnya.

Edited by Tundzirawati

Sumber:
http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2012/09/09/129438/Rhenald-Kasali-Wirausaha-Sosial-Bukan-untuk-Jadi-Kaya
http://sociopreneurugm.com/rhenald-kasali-wirausaha-sosial-bukan-untuk-jadi-kaya/

Waroeng Pintar Karya Sofyan Tan

0 comments

Sofyan Tan. Pria asal medan, Sumatera utara ini merasa masih ada jurang pemisah yang besar antara etnis-etnis dan agama di Indonesia. Untuk itulah ia medirikan sekolah multikultural di bawah Yayasan Pendidikan Sultan Iskandar Muda (YPSIM). Di sekolah yang ia dirikan tersebut, para siswa dibiasakan dengan kemajemukan. Ia membangun semua rumah ibadah di sekolah itu dan menjelang perayaan hari raya suatu agama para siswa juga dibiasakan berpartisipasi mendukung, mialnya dengan mendekor ruang kelas.
Selain sekolah, pria yang mendapat penghargaan sebagai tokoh Social Entrepreneur 2011 dari sebuah surat kabar nasional ini juga mendirikan Waroeng Pintar sebagai wadah interaksi warga Medan dan memfasilitasinya dengan berbagai macam buku. Tujuan didirikannya Waroeng Pintar ini untuk menjembatani berbagai perbedaan di Medan.Menurutnya, warung makanan dan minuman (ringan), atau sering disebut juga kedai minuman, biasanya dijadikan ruang untuk berinteraksi diantara sesama anggota masyarakat. Di warung, orang-orang saling bersosialisasi, bertukar informasi, berkeluh-kesah, berkelakar dan melakukan aktivitas-aktivitas kemanusiaan. Melihat potensi tersebut, Sofyan Tan tergerak untuk meningkatkan fungsi warung makan.
Konsep “Waroeng Pintar” adalah upaya menjadikan warung makan dan minum sebagai sumber untuk mencari pengetahuan dan informasi bagi para pelanggan dan masyarakat sekitar warung. Caranya dengan memberi tambahan fasilitas buku-buku bacaan, yang dapat dimanfaatkan secara gratis oleh pengunjung. Kelak, pengelola warung pintar juga dapat menyediakan akses internet murah untuk menambah pasokan informasi dari dunia maya. “Saat ini sudah ada 2 warung pintar di Medan,”jelasnya. Bantuan buku-buku terus-menerus mengalir dari berbagai kalangan masyarakat. Ia sendiri banyak menempatkan buku-buku yang diharapkan dapat mengilhami pengunjuung untuk saling menghormati perbedaan yang ada.

By: Adetya Nuzuliani

Sumber:
http://www.sofyantan.org/
http://www.antarafoto.com/peristiwa/v1273496401/warung-pintar

Amin aziz, sang Perintis Ekonomi Syariah

0 comments

Amin Aziz merupakan salah satu tokoh yang berperan besar dalam sejarah perkembangan ekonomi syariah di Indonesia. Beliau termasuk cendikiawan yang pada tahun 1990 turut memperjuangkan berdirinya bank syariah pertama. Adalah Amin Aziz yang menjadi salah satu inisiator Lokakarya Bunga Bank dan Perbankan di Cisarua, Bogor pada tahun 1990. Semua dimulai dengan surat Amin menggunakan Yayasan Kajian Komunikasi Dakwah (YKKD) kepada Majelis Ulama Indonesia (MUI). Intinya, saat itu Amin menawarkan diri agar diberi tugas MUI untuk menggelar lokakarya sekaligus diberi wewenang mencari dana. MUI yang ada saat itu sudah mendapatkan gambaran utuh mengenai bank Islam dari Karnaen Perwataatmadja, langsung mengiyakan permintaan Amin. Selanjutnya Amin didapuk menjadi Ketua Tim Panitia Pelaksana Lokakarya.  Ia juga melahirkan konsep Baitul Maal Wat Tamwill yang memberikan alternatif pembiayaan usaha mikro.
Pembentukan BMT pertama dimulai tahun 1995 di Jakarta dan sampai dengan akhir 2009 sudah berdiri lebih dari 500 BMT baru. Dalam biografi tentang Amin Aziz yang berjudul “Kegigihan Sang Perintis”, berkat kegigihan dan kerja kerasnya, Amin berhasil mengumpulkan dana sebesar  Rp 125,5 juta sebagai modal menggelar lokakarya.  Pengarang Buku Buku Best Seller 2008 The Power of Al Fatihah ini juga tercatat dalam sejarah sebagai Wakil Ketua Tim Penyiapan Bank Tanpa Bunga. Bersama Karnaen Perwataatmadja, Amir Rajab Batubara, Zainulbahar Noor, gencar melakukan ‘roadshow’ audiensi pendirian bank syariah ke para pejabat di Bank Indonesia dan Kementrian Keuangan.  Pria kelahiran Lhokseumawe, 17 Desember 1936 ini memiliki prestasi gemilang dalam penggalangan modal awal pendirian bank syariah pertama. Sebagai ketua Tim Penggalangan Dana, Amin berhasil mengumpulkan dana komitmen sebesar Rp 110 Miliar di tahun 1990. Dana yang sangat besar untuk mendirikan bank, karena saat itu berdasarkan Pakto 1998, untuk mendirikan bank cukup Rp 10 Miliar.
Amin Aziz meraih gelar M.Sc Sosiologi Pedesaan di Uniuversity of the Philillone. Los Banos, Filipina tahun 1974 dan meraih gelar Ph.D ekonomi pertanian di LOWA State University, AS tahun 1978. [Puri Hukmi] Sosok Amin Aziz dikenal sebagai orang yang sangat memperhatikan ekonomi kerakyatan dan bagaimana cara menanggulangi kemiskinan. Menurut Nanat Fatah Natsir, Amin Aziz sangat perhatian kepada masyarakat miskin. Beliau juga merupakan sosok yang religius dan rendah hati.“Beliau orang yang sangat ikhlas dan konsen sekali terhadap masyarakat kecil. Kalau digambarkan hidupnya diabdikan untuk membela masyarakat lemah. “ Tutur Nanat
By: Resti Fauziah

Semangat Muda, Semangat Social Entrepreneur

0 comments

Berawal dari masalah ketidaksediaan listrik di Desa Bacu Bacu, Makassar, Sulawesi Selatan, sehingga masyarakat disana tak bisa menikmati listrik. Namun, dengan semangat muda yang dimilikinya, Harianto Albar (24 tahun) tahun 2012 mengembangkan kincir air untuk dijadikan sebagai pembangkit tenaga listrik. Mahasiswa Universitas Negeri Makassar ini lantas berhasil memproduksi listrik dari kincir air tersebut. Sejak saat itu, warga Bacu Bacu bisa menikmati listrik di malam hari.
Harianto merupakan satu dari sekian tokoh yang memiliki semangat muda untuk melakukan gerakan sosial. Ada yang membantu masyarakat mengajar baca tulis, atau kegiatan-kegiatan sosial lainnya. Kegiatan yang menggabungkan aksi sosial dengan kegiatan wirausaha atau enterpreunership dikenal sebagai social entrepreneurship.
Dengan kompleksnya masalah yang ada di masyarakat, bisa menjadi sarana untuk belajar mengembangkan diri, baik dalam hal pengabdian masyarakat maupun melatih wirausaha. Kini juga makin banyak pihak termasuk perusaahaan maupun LSM yang ikut berpartisipasi mendukung kegiatan sosiopreneur yang dilakukan mahasiswa.
Sebagai Generasi muda, mahasiswa seyogyanya memiliki energi lebih untuk mengaktualisasikan banyak hal. Tak salah jika masyarakat banyak berharap pada anak muda, terutama mahasiswa. Tak bisa dimungkiri, banyak hal baru yang diinisiasi oleh anak muda, terutama mahasiswa yang diharapkan bisa menjadi solusi bagi permasalahan yang ada di masyarakat.
Semangat Mahasiswa! Semangat muda!

Editor : Adetya Nuzuliani Rahma

Sumber Referensi:
http://lh3.ggpht.com/

Santoso : Wartawan Jadi Social Entrepreneur

0 comments

Siapa bilang seorang jurnalis tidak mampu bersaing dengan para tokoh bisnis? Pelaku bisnis radio dan seorang wartawan media elektronik, Santoso, yang tercatat sebagai Managing Director Stasiun Radio KBR68H berhasil terpilih sebagai Ernst and Young Enterpreneur of The Year 2010 untuk kategori bidang sosial, "Social Entrepreneur".
Stasiun radio KBR68H bermodalkan awal US$300 ribu yang berasal dari bantuan Asian Foundation, MDLF, Kedutaan Belanda, dan lain sebagainya, dan awalnya berbentuk LSM dan pada tahun 2000 baru mulai berubah menjadi PT (Perseroan Terbatas).
"Perkembangannya stasiun radio ini cepat sekali, dulu hanya tujuh stasiun radio yang me-relay berita kami, sekarang sudah hampir 800 yang me-relay. Dan bukan hanya di Indonesia tetapi juga di 10 negara di Asia (Kamboja, Thailand, Myanmar, Filipina, Afganistan, Pakistan dan Bangladesh, Nepal dan Pakistan), karena kami juga memilki program untuk Asia," ujar Santoso.
Stasiun radio yang berdiri pada April 1999, bertempat di Utan Kayu ini memiliki misi yaitu menyediakan informasi yang baik pada masyarakat Indonesia melalui radio. Dengan mengedepankan program-program jurnalistik seperti berita, talk show, dan lain-lain.
Namun, agar program berita yang selama ini identik membosankan dikemas dengan membuat berita yang lebih menarik tanpa menghilangkan standar jurnalisme.
Santoso mejelaskan latar belakang lahirnya stasiun radio ini adalah karena melihat kekosongan yang terjadi pada pemberitaan melalui radio paska reformasi 1998. Saat era Orde Baru memang siaran berita melalui radio sangat dibatasi dan hanya RRI (Radio Republik Indonesia) saja yang boleh direlay oleh stasiun radio swasta. Namun ketika sudah reformasi dan adanya kebebasan dan keterbukaan informasi, momentum inilah yang ia jadikan awal untuk membuat program berita sendiri.
Sebelum menjadi seorang entrepreneur, Santoso adalah seorang wartawan dan tidak pernah terpikir menjadi seorang wirausaha. Namun, karena faktor melihat kebutuhan akan informasi itulah yang membuatnya memulai usaha ini. Tapi ia mengaku tetap ingin menjadi seorang wartawan, karena tetap memberikan informasi.

By: Adetya Nuzuliani

Sumber:
http://bisnis.news.viva.co.id/news/read/190695-ini-wartawan-juara-ernst-and-young-2010