Kewirausahaan Sosial kini dan nanti

0 comments

Kewirausahaan sosial hari ini sudah tidak asing lagi ditelinga kita. Banyak tokoh-tokoh kewirausahaan sosial yang namanya kini udah melambung. Sebut saja Ibu Tri Mumpuni. Ibu dua anak yang mengabdikan dirinya bagi masyarakat desa bersama suami tercinta, Iskandar Budisaroso Kuntoadji. Beliau biasa dipanggil  Bu Puni. Tidak kurang 60 lokasi terpencil yang sebelumnya gelap gulita menjadi terang benderang dengan pembangkit yang mereka bangun. Melalui Institut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan (Ibeka) yang mereka bentuk memberikan penerangan dibeberapa wilayah Indonesia dan satu lokasi di Filipina.
Kesuksesan ibu Tri Mumpuni di bidang hidrologi pun banyak menginspirasi banyak orang makin banyak anak muda Indonesia yang berbondong-bondong membuat usaha dan tidak lupa memberikan manfaat sebanyak-banyaknya ke masyarakat sekitar. Hal ini membuka banyak lapangan pekerjaan juga nilai tambah bagi para pegiat kewirusahaan sosial.
Kini, kewirausahaan oial sedang erangkak naik untuk bisa bertengger di posisi atas pekerjaan yang mengambil hati banyak orang, elain keuntungan yang didapat bisa sangat amat menjanjikan,kebermanfaatan bagi lingkungan ekitar juga menjadi faktor utama yang membuat kewirausahaan sosial kini makin naik daun.
Maka, perkembangan kewirausahaan sosial nanti kedepannya, sudah dapat dipastikan akan terus meningkat dari segi kualitas dan kuantitas. Semakin banyak orang-orang yang sadar untuk enjadikan perubahan kea rah yang lebih baik tidak harus lewat pemerintah dan perusahaan-perusahaan ternama saja, namun dengan kewirausahaan sosial kita dapat pula berkontribusi untukn membawa perubahan.. selamat mencoba  

By : Puti Halimah

Kewirausahaan Sosial Lebih Jauh Lagi

0 comments

Gerakan kewirausahaan sosial sebenarnya sudah lama berlangsung. Artinya, sebelum dunia mengenal istilah ini, aktivitasnya sendiri sudah berlangsung puluhan tahun lamanya. Sepuluh tahun kebelakang, istilah ini mulai muncul dan digunakan secara luas, terutama sejak dianugrahinya Mohamad Yunus sebagai pemenang hadiah nobel. Kakek yang selalu tersenyum ini muncul dengan satu gagasan bahwa pemberian bantuan langsung kepada kaum miskin hanya akan mengkerdilkan mereka. Sebagai solusinya, dosen ekonomi di salah satu perguruan tinggi Bangladesh ini mengeluarkan program kredit mikro tanpa agunan untuk menolong masyarakat miskin –kebanyakan kaum ibu- yang hidup di lingkungannya.
Inilah spirit yang disebut sebagai kewirausahaan sosial, yaitu sebuah upaya untuk memanfaatkan mental entrepreuneur (yaitu mental inovatif, kerja keras, berani ambil resiko, dll) untuk sebesar-besarnya kebermanfaatan bagi masyarakat. Inilah antusiasme bisnis yang tidak menghubungkan indikator kesuksesannya dengan kinerja keuangan, melainkan lebih kepada seberapa besar manfaat yang dirasakan oleh masyarakat.
Bill Drayton, pendiri Yayasan Asoka Internasional, adalah orang yang diyakini sebagai pencetus terminologi kewirausahaan sosial. Ia menegaskan bahwa seorang wirausaha sosial adalah seseorang yang tidak puas hanya memberikan ikan kepada orang yang lapar, ataupun mengajarkan kepada mereka cara memancing, namun ia tidak akan pernah berhenti sebelum industri perikanan berubah. Artinya, seorang wirausaha sosial pantang menyerah terhadap sistem, sebaliknya (ketika sistem tersebut merugikan masyarakat), ia justru berpikir bagaimana mengubah sistem tersebut.
Berikut ini adalah beberapa tokoh wirausaha sosial Indonesia yang dikutip dari majalah Swa Sembada : 
  1. Amin Aziz. Ia melahirkan konsep Baitul Maal Wat Tamwill yang memberikan alternatif pembiayaan usaha mikro. Pembentukan BMT pertama dimulai tahun 1995 di Jakarta dan sampai dengan akhir 2009 sudah berdiri lebih dari 500 BMT baru
  2. Amir Panzuri. Ia berupaya mengembangkan ekspor kerajinan asal Indonesia. Ia aktif di Asosiasi Pengembangan Kerajinan dan Keterampilan Rakyat Indonesia (Apikri) berbasisi di Yogyakarta. Lewat Apikri, ia membina para UKM mulai dari standar produksi, penyediaan bahan baku sampai dengan pasar luar negeri. Saat ini ekspor yang berhasil dilakukan sudah lebih dari 11 negara
  3. Bambang Suwerda. Ia menggagas dan membidani lahirnya bank sampah di Bantul Yogyakarta. Awalnya ide ini hanya untuk menekan penularan penyakit DBD, tetapi kemudian melahirkan efek turunan yang bersih, kesadaran masyarakat akan kebersihan lingkungan meningkat dan masyarakat memiliki tabungan. Pengelolaan bank sampah seperti layaknya bank konvensional, tetapi uang tabungan berupa sampah rumah tangga yang sudah dipilah. Kemudian dikumpulkan di bank dan pihak bank yang menjualnya ke penadah sampah. Uang hasil penjualan inilah yang bisa menjadi tabungan masyarakat, yang baru bisa dicairkan tiga bulan sekali.

Defisini Kewirausahaan Sosial
Mendefinisikan kewirausahaan sosial adalah bukan hal yang sederhana, mengingat kewirausahaan sosial itu sendiri melingkupi sebuah gerakan, semangat dan aktivitas yang sangat luas. Johanna dkk menyatakan bahwa :

The concept of social entrepreneurship is, in practice, recognized as encompassing a wide range of activities: enterprising individuals devoted to making a difference; social purpose business ventures dedicated to adding for profit motivations to the nonprofit sector; new types of philantropist supporting ventures capital-like ‘investment’ portfolios; and nonprofit organizations that are reinventing themselves by drawing on lessons learned from the business world

Berdasarkan uraian tersebut dapat disebutkan bahwa kewirausahaan melingkupi jumlah dan jenis aktivitas yang sangat luas; dengan ciri-ciri utama yaitu adanya gerakan individu yang ingin membuat perbedaan; aktivitas bisnis yang bermotivasi profit namun kemudian juga memiliki gairah pada sektor non profit; bentuk filantropi baru yang mendukung investasi portofolio modal ventura; dan organisasi non profit yang mereformasi dirinya dengan menarik pelajaran dari dunia bisnis. Dari sini, dapat dikatakan bahwa terminologi kewirausahaan sangat lekat dengan istilah-istilah manfaat sosial, bisnis, filantropi dan lain-lain. Artinya bahwa memang gerakan ini adalah gerakan yang menggabungkan antara keterampilan bisnis (business skills) dengan semangat filantropi (philantrohy’s spirits).
Sampai dengan sekarang, gerakan kewirausahaan sosial telah dianggap sebagai model baru dalam usaha-usaha penciptaan manfaat sosial, dari yang tadinya hanya sebatas usaha mengumpulkan dana dari lembaga funding dan kemudian menyebarkan kepada yang membutuhkan sampai ke aplikasi keterampilan bisnis untuk menghidupi roda organisasi/lembaga sekaligus memberikan manfaat kepada yang membutuhkan. (Hery Wibowo, 2012)

By : Yasmin Anwar

Sumber : http://socialstationproject.wordpress.com/category/kewirausahaan-sosial/

Lale Alon Sari : Srikandi Tenun dari NTB

0 comments

Kemiskinan begitu melekat pada kaum perempuan di Desa Batu Jai, Kecamatan Praya Barat, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. Tak hanya itu, perempuan di desa ini juga kurang terpenuhinya hak-hak dasar hidup seperti jaminan kesehatan, kurangnya air bersih, terbatasnya pendidikan, mengalami kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), serta pengakuan terhadap peran mereka yang masih sangat minim.
Lale Alon Sari (45 th) prihatin dengan kondisi ini. Pada tahun 1987 ia pun turun ke dusun-dusun untuk memotivasi kaum perempuan berkumpul dan memberdayakan diri secara bersama-sama melalui Aliansi Peduli Perempuan Kembang Komak (AP2K). Hambatan yang kerap muncul diatasi Lale dengan mendekati kalangan adat dan perangkat desa serta kepala dusun sehingga kegiatan kaum perempuan ini tidak dianggap menentang tradisi dan berseberangan dengan program pemerintah desa.
Aliansi ini kemudian memilih pemberdayaan melalui keterampilan menenun yang telah dikuasai perempuan setempat secara turun-temurun. Dengan alat tenun yang dimiliki setiap keluarga, Lale mengajak mereka untuk mandiri, baik dari sisi permodalan, bahan baku, pemasaran sehingga tidak tergantung lagi pada pedagang pengumpul yang datang secara rutin ke desa tersebut. Ia kemudian membentuk Koperasi Wanita "Stagen" untuk mengatasi permodalan para penenun sekaligus mengatasi praktek rentenir. 
Lale menjaminkan tanah dan bangunan milik keluarganya untuk mendapatkan kredit dan juga menghibahkan tanahnya untuk pembangunan artshop yang menjual hasil tenun. Selain melalui artshop yang kerap dikunjungi turis lokal maupun mancanegara, Lela juga melobi pemerintah dan DPRD setempat agar mengkampanyekan pemakaian tenunan asli Lombok Tengah kepada para pelajar maupun PNS. Hasilnya, sejak 1 Januari 2012 lalu, Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah mewajibkan semua PNS mengenakan pakaian berbahan tenun setempat setiap hari Kamis. 
Ada enam puluh kelompok perempuan penenun dengan anggota 600 orang warga Desa Batu Jai yang saat ini tergabung dalam AP2K. Anggota kelompok ini bisa menghasilkan 2400 lembar kain tenun per bulan dengan beragam motif asli Lombok. Dengan harga yang bervariasi, mulai dari Rp 200 ribu hingga Rp 1 juta, para penenun mendapatkan hasil yang lumayan. Sebelum bergabung dalam kelompok tenun dan AP2K, dari satu lembar tenunan, biasanya hanya dapat untung Rp15-Rp20 ribu. Namun saat ini rata-rata untuk satu lembar bisa mendapatkan untung Rp100ribu. 
Jerih payah Lale memperjuangkan nasib kaum perempuan dari kain tenun tradisional akhirnya berbuah manis. Kesejahteraan perempuan di desa ini beserta keluarganya makin bertambah melalui produksi tenun yang meningkat, harga bahan baku lebih murah, harga jual yang lebih tinggi, saluran distribusi penjualan yang lebih banyak. Sehingga fungsi kain tenun ini tidak hanya mempesona pemakainya, namun kain berbahan benang lembut ini juga diharapkan mampu mempesonakan pembuatnya. 

By : Darastri Latifah

Sumber:
http://danamonawards.org/winnerprofile/5
https://achmadubaidillah86.wordpress.com/category/wirausaha/
Sumber Gambar: 
www.marketing.co.id 

Pemuda Indonesia dan Kewirausahaan Sosial

0 comments

PEMUDA INDONESIA DAN KEWIRAUSAHAAN SOSIAL
Muliadi Palesangi, SE.,MBA
Universitas Katolik Parahyangan
Jln. Ciumbuleuit No.94 Bandung 40141
adipalesangi@gmail.com


1. PENDAHULUAN 
Masalah sosial utama yang terjadi di Indonesia antara lain: pengangguran, kemiskinan, dan kerusakan lingkungan. Kondisi  tersebut  tentunya  akan mengganggu pembangunan dan stabilitas nasional. Oleh karena itu, yang dibutuhkan saat ini adalah suatu  solusi  nyata yang dapat membantu mengatasi permasalahan di atas. Salah satu solusi tersebut adalah dengan meningkatkan semangat kewirausahaan  pada  setiap individu yang ada di masyarakat, terutama pemuda sebagai tulang punggung  bangsa, diantaranya adalah melalui pengembangan kewirausahaan sosial. 

2. KONSEP KEWIRAUSAHAAN SOSIAL
Bill Drayton (pendiri Ashoka Foundation) selaku penggagas kewirausahaan sosial menegaskan bahwa  ada dua  hal kunci  dalam  kewirausahaan  sosial. Pertama, adanya inovasi sosial yang mampu mengubah sistem yang ada di masyarakat. Kedua, hadirnya individu bervisi, kreatif, berjiwa wirausaha (entrepreneurial), dan beretika di belakang gagasan inovatif tersebut. Hulgard (2010) merangkum definisi kewirausahaan sosial dengan lebih komprehensif: “Social entrepreneurship can be defined as "the creation of a social value that is produced in collaboration with people and organization from the civil society who are engaged in social innovations that usually imply an economic activity.
Definisi komprehensif di atas memberikan pemahaman bahwa kewirausahaan sosial terdiri dari empat elemen utama yakni social value, civil society, innovation, and economic activity.
  • Social  Value.  Ini  merupakan  elemen  paling  khas  dari  kewirausahaan  sosial yakni  menciptakan  manfaat  sosial  yang  nyata  bagi  masyarakat dan  lingkungan sekitar.
  • Civil  Society.  Kewirausahaan  sosial  pada  umumnya  berasal  dari  inisiatif dan partisipasi masyarakat sipil dengan mengoptimalkan modal sosial yang ada di masyarakat.
  • Innovation. Kewirausahaan sosial memecahkan masalah sosial dengan cara-cara inovatif antara lain dengan memadukan kearifan lokal dan inovasi sosial. 
  • Economic Activity. Kewirausahaan sosial yang berhasil pada umumnya dengan menyeimbangkan antara   antara  aktivitas  sosial  dan  aktivitas  bisnis.  Aktivitas bisnis/ekonomi dikembangkan untuk menjamin kemandirian dan keberlanjutan misi sosial organisasi.

3. PEMUDA DAN KEWIRAUSAHAAN SOSIAL
Pada prinsipnya setiap orang bisa berperan sebagai pembawa perubahan, termasuk pemuda. Inisiatif pemuda dapat memberikan kontribusi yang sangat berarti dalam proses perubahan sosial. Pada bagian ini, penulis akan memaparkan profil singkat tiga wirausaha muda yang bergerak di bidang kewirausahaan sosial yakni Goris Mustaqim (Asgar  Muda),  menciptakan  beragam  bisnis  berbasis komunitas di Garut. Elang Gumilang (Elang Group), menghadirkan Rumah Sehat Sederhana (RSS) untuk kalangan  berpenghasilan  rendah. Dan M. Bijaksana Junerosano (Generation Indonesia), memadukan bisnis dengan pelestarian lingkungan.
Hal yang menarik untuk dicermati dari ketiga profil di atas adalah adanya kesamaan dalam hal: mereka berusia muda (rata-rata 20 tahunan), berpendidikan tinggi, berjiwa wirausaha, kreatif dan inovatif, serta memiliki kepedulian sosial yang tinggi. 
Bangsa ini membutuhkan banyak pemuda seperti mereka, yang bisa memadukan antara aktivitas bisnis dan sosial. Perjalanan ketiga wirausaha muda ini tentunya masih panjang untuk  membuktikan diri sebagai wirausaha sosial yang sejati, namun inisiatif mereka perlu kita apresiasi secara khusus, karena mereka tidak sekadar mengembangkan bisnis tapi juga memecahkan persoalan sosial .

4. KEBERLANJUTAN KEWIRAUSAHAAN SOSIAL
Isu sustainability (keberlanjutan) secara finansial dan kelembagaan selalu menjadi tantangan terbesar bagi para wirausahawan sosial dalam mewujudkan misi sosial mereka. Pada bagian akhir ini, penulis akan mengeksplorasi dua bentuk kemitraan untuk mengembangkan kewirausahaan sosial di Indonesia yakni kemitraan dengan institusi publik dan kemitraan dengan korporasi seperti kemitraan dengan institusi publik dan kemitraan dengan koorporasi.

5. PENUTUP
Kewirausahaan sosial merupakan salah satu alternatif untuk mengatasi masalah sosial berupa pengangguran, kemiskinan, dan kerusakan lingkungan. Momentum kewirausahaan sosial di Indonesia ditandai dengan hadirnya organisasi yang peduli dengan pengembangan kewirausahaan seperti Ashoka Indonesia dan Asosiasi Kewirausahaan Indonesia (AKSI). 
Pada prinsipnya setiap orang bisa berperan sebagai pembawa perubahan, termasuk pemuda. Inisiatif pemuda dalam hal kewirausahaan sosial dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan lingkungan. Bangsa ini membutuhkan banyak inisiatif pemuda yang mampu memadukan aktivitas bisnis dan aktivitas sosial. Isu sustainability (keberlanjutan) secara finansial dan kelembagaan selalu menjadi tantangan terbesar bagi para wirausaha sosial. Ada dua alternatif kemitraan yang dapat dikembangkan oleh wirausaha sosial yakni kemitraan dengan institusi publik dan kemitraan dengan korporasi. Untuk mewujudkan bisnis sosial yang berkelanjutan memang membutuhkan jaringan dan kerjasama dengan berbagai pihak.

By : Danis Dea

Sumber : http://www.journal.unipdu.ac.id/index.php/seminas/article/viewFile/198/145 (Diakses Tanggal 19 November 2014, Pukul 10.48 wib)

Fajar Ciptandi, Dwaya Manikam Harapan Warga Cicadas

0 comments

Bermula dari sebuah usaha dengan brand “Manikam Indonesia”, sejak tahun 2009 saya mencoba mengangkat sebuah produk batik ekslusif bergaya kontemporer. Produknya memiliki kekuatan pada konsep, material, visual serta detail yang banyak bermain dengan prada dan aplikasi bordir kerancang. Produk batik premium ini menyasar segmentasi market untuk kalangan menengah ke atas, seperti para kolektor batik dan pecinta wastra.

Aplikasi produk antara lain dress dan kemeja batik, sekaligus aksesoris penunjangnya berupa kalung-kalung yang dibuat dari hasil eksplorasi bahan perca batik.  Melalui berbagai event pameran, bazar, konsinyasi dengan beberapa mall serta memanfaatkan media sosial seperti twitter dan facebook, produk Dwaya Manikam pun mendapat respon yang positif.

Setelah hampir kurang lebih 3 tahun usaha ini berjalan, di awal tahun 2012 Fajar membuat sebuah program yang meniru konsep CSR dengan nama Dwaya Manikam “Start Empathy”.  Program ini terpikir karena pengalaman saya seringnya melihat dan berinteraksi langsung dengan masyarakat di kawasan pemukiman padat penduduk Cicadas-Bandung. Ada banyak kelompok masyarakat yang menjadi buruh gunting karet dengan upah Rp 10 perak saja per buah.  Atau ada juga yang menjadi buruh melepaskan kulit kabel yang upahnya dihargai Rp 5.000 untuk per-3 kg kabel.

Kegiatan yang dilakukan untuk memenuhi  kebutuhan, namun seolah telah menutup kesempatan untuk mengoptimalkan potensi yang mereka miliki agar dapat terus berkembang sebagai individu. Tergerak melihat hal itu, maka mulailah Fajar menginisiasi program tersebut dengan memberdayakan masyarakat untuk tujuan menciptakan kelompok masyarakat yang mandiri, kreatif dan sejahtera. Mereka dibekali keterampilan dasar menjahit, menjelujur, dan bereksplorasi menciptakan variasi bentuk aksesoris serta dilatih juga tentang keberanian memilih kombinasi warna agar potensi yang dimilikinya teroptimalkan.

Salah satu produk Dwaya Manikam yaitu aksesoris berupa kalung batik yang merupakan contoh produk awal yang diperkenalkan kepada masyarakat tersebut, dengan permulaan terhadap 5 orang ibu rumah tangga di kawasan Cicadas-Bandung, dengan upah kerja berkisar antara Rp 5.000 sampai Rp 7000 perbuah. Mereka dapat mengerjakan di sela waktu luang kesibukan rumah tangga.  Ke depannya akan lebih banyak masyarakat yang kami bantu sehingga mampu menjadikan kawasan Cicadas sebagai kampung kreatif dan mandiri.

Edited : Lina Lisnawati
Sumber         :
http://www.the-marketeers.com/archives/dwaya-manikam-batik-premium-asal-bandung.html