Tri Mumpuni Pejuang Mikrohidro Indonesia

0 comments

Ibu Tri Mumpuni bersama suami, membangun Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) sebagai sumber energi listrik bagi wilayah yang belum terjangkau atau sulit dijangkau oleh PT PLN dengan memanfaatkan potensi energi air yang terdapat dilokasi setempat untuk menggerakkan turbin.
Ide awal pembangunan PLTMH berawal dari seringnya Ibu Tri Mumpuni bersama suami berkeliling ke desa-desa dan melihat sumber air yang melimpah namum belum ada kabel distribusi listrik dilokasi tersebut. Kemudian dibicarakan kepada Kepala Desa setempat kemungkinan untuk membangun pembangkit listrik dengan memanfaatkan aliran sungai untuk menghasilkan listrik dari sebuah turbin.
Langkah selanjutnya lanjut Tri Mumpuni, adalah mengumpulkan data untuk melihat kemungkinannya secara teknis serta menghitung rencana anggaran biaya kemudian mencari sumber dana untuk pembangunan pembangkit.
Setelah dana tersedia, yayasan Ibeka lalu mengirim Tim Sosial untuk membangun komunitas. Tim Sosial ini akan berinteraksi selama beberapa minggu dengan masyarakat agar terbina hubungan yang baik. Langkah awalnya adalah menghubungi tokoh agama maupun tokoh adat setempat.
Kemudian masyarakat diminta membuat organisasi yang akan mengurus turbin, dengan menentukan siapa ketua, bendahara, sekretaris, hingga siapa yang bertanggung jawab untuk melakukan bongkar pasang mesin turbin. Tim yangg terbentuk tersebut juga diberikan pengetahuan pengoperasian mesin turbin dan penghitungan biaya yang harus dikeluarkan pelanggan dan biaya memelihara pembangkit listrik.
Agar pembangkit listrik tenaga air itu dapat menjalankan fungsinya terus-menerus maka daerah tangkapan air di hulu harus dipertahankan seluas 30 kilometer persegi. Tidak boleh ada penebangan hutan dan vegetasi.
Listrik bagi desa terisolir bukanlah tujuan akhir ujar Tri Mumpuni, membangun pemberdayaan masyarakat khususnya secara ekonomi adalah tujuan utama kami. Dengan adanya listrik diharapkan ekonomi masyarakat dapat terbangun dan sekaligus membantu pemerintah untuk melistriki desa-desa terpencil.
Dia menerangi desa dalam arti sebenarnya. Bersama suaminya, Iskandar Budisaroso Kuntoadji, Tri Mumpuni Wiyatno membangun pembangkit listrik mini bertenaga air. Sudah 60 lokasi mereka terangi dengan listrik
Pembangkit listrik mikrohidro juga ramah lingkungan karena tidak menggunakan bahan bakar fosil. Artinya, tidak menambah jumlah gas karbon dioksida ke atmosfer yang memperburuk efek rumah kaca penyebab naiknya suhu muka Bumi secara global
Dengan kiprahnya ini, Tri Mumpuni banyak meraih penghargaan internasional. Tetapi tentu bukan itu tujuan utamanya, melainkan melihat Indonesia ini menjadi negeri yang bercahaya dengan listrik yang benderang. Ekonomi pedesaan bisa tumbuh, tidak lagi hanya berpusat di kota.

Edited : Lina Lisnawati

Gambar : 

Dian Wahdini Syarief: Peraih Lifetime Achievement Award dari Kongres Lupus Internasional, Kanada

0 comments

Dian Wahdini Syarief
Di balik kelembutan dan ketenangannya, Dian menyimpan kegigihan dan ketegaran yang luar biasa menghadapi keganasan penyakit lupusnya yang kerap kambuh.Ia kini mendarmakan waktunya untuk menolong sesama penderita lupus lainnya. Lifetime Achievement Award dari Kongres Lupus Internasional pun dianugerahkan kepadanya atas  sumbangsihnya  itu.
Mantan Manajer Komunikasi Korporat Bank Bali ini divonis menderita penyakit lupus pada 1999. Dian yang dulu dikenal sebagai wanita karier yang ceria dan ramah, sehingga amat populer di kalangan wartawan perbankan, sempat merasa hidupnya terhenti di usia 34 tahun itu.
Namun, berkat daya juangnya yang tinggi, plus kesabaran dan kepasrahan, ia mampu menjalani puluhan kali terapi dan periode pengobatan yang panjang, melelahkan, menguras dana dan tenaga, serta sangat menyakitkan.
“Saya tidak pernah mimpi jadi orang buta. Tahun 1999 itu saya sering menangis karena tidak bisa melihat lagi,” ujar perempuan yang kini berusia 45 tahun ini terus terang.
Kini, selain masih berupaya melawan keganasan lupus yang sewaktu-waktu kambuh, ia mengelola yayasan yang ditujukan untuk membantu sesama penderita lupus lainnya, yakni Syamsi Dhuha Foundation.
Menurut Dian, lima tahun pertama sakitnya lebih banyak ia gunakan untuk berjuang hidup. Saat itu ia banyak mengalami pendarahan dan peradangan. “Saya harus bolak-balik ke rumah sakit untuk operasi, terapi, konsultasi dan fisioterapi. Di tahun 1999 itu juga saya sempat tidak bisa jalan,” ujar wanita yang telah menjalani hampir 20 kali operasi sepanjang mengidap penyakitnya itu.
Kondisi kesehatan Dian baru lumayan stabil pada 2004. Pada tahun itu Dian mendirikan Syamsi Dhuha Foundation (SDF). Kehadiran yayasan ini merupakan wujud syukur Dian karena masih diberi kesempatan untuk hidup oleh Tuhan.
“Saya ingin berbagi pengalaman, memfasilitasi orang lain, dan sebagainya. Inti SDF adalah pendampingan, memfasilitasi dan pemberdayaan,” ujarnya. Upayanya ini diapresiasi dunia. Baru-baru ini, ia memperoleh penghargaan Lifetime Achievement Award dari penyelenggara the 9th International Congress on Systemic Lupus Erythematosus di Vancouver, British Columbia, Kanada. Di sini ia juga menjadi salah satu panelis dalam diskusi panel yang melibatkan tiga negara yaitu Kanada, Inggris dan Indonesia. Dian membawakan materi berjudul How to Make Friends with Lupus. Di dalam negeri pun, Dian kerap dipanggil untuk sharing pengalaman dan motivasi di lingkungan odapus (orang dengan penyakit lupus) dan beberapa perusahaan.
Dalam perjuangannya menghadapi penyakit lupus, Dian mengaku mengalami dua kali depresi yang hebat, yaitu pada 2001 dan 2007. Tahun 2001, Dian merasa depresi karena merasa tidak kunjung sembuh dari penyakitnya.
“Sebenarnya saya semangat berobat dan terapi karena punya harapan ingin sembuh dan bisa melihat kembali. Tapi ketika hal itu tidak terjadi, saya pun menjadi down,” ujar wanita yang berobat hingga ke Mount Elizabeth Hospital di Singapura ini..
Saat ini, meski hidup bersama lupus, kegiatan rutin Dian lebih berwarna. Seperti orang normal lainnya, sekarang ia rutin berenang setidaknya seminggu sekali selama tidak dalam kondisi pasca-operasi.

Edited : Lina Lisnawati

Sumber :
Gambar : www.fa.itb.ac.id

Darsono : Pendiri Universitas Pamulang (UNPAM)

0 comments

Darsono
Pria kelahiran Bantul, Yogyakarta ini berasal dari keluarga tidak mampu. Hal inilah yang membuatnya hampir saja tidak mengenyam bangku sekolah. Darsono juga sempat dilarang untuk meneruskan sekolahnya.Namun Darsono tidak patah semangat dalam meraih dan mengejar cita-citanya. Ia rela menjadi buruh di tempat pembuatan batu bata merah agar bisa mendapat biaya untuk melanjutkan sekolahnya. Hal yang sama ia lakukan pada saat hijrah ke Jakarta. Ia menjadi buruh, berdagang elektronik, serta menjadi guru.

Motivasi atas perjuangan Bpk. H. Darsono membuka Unpam dari nol hingga seperti sekarang. Semangat yang ditunjukannya patut ditiru, seperti halnya semangat banyak mahasiswa Unpam lainnya yang tetap terus melanjutkan kuliah dengan segala keterbatasannya. Bagi Darsono  tidak ada alasan orang tidak bisa kuliah di perguruan tinggi karena mahalnya biaya kuliah. Pria berusia 57 tahun berasal dari Yogyakarta  itu mendirikan Universitas Pamulang yang terletak di Pamulang, Tangerang Selatan, Banten. 

Mahasiswa Unpam sebagian besar dari kalangan tidak mampu antara lain mereka yang berprofesi sebagai office boy, kuli bangunan dan pemulung. Motivasi mendirikan universitas yang murah bagi Darsono adalah obsesinya karena dendam masa lalunya yang kesulitan ketika bersekolah. Ia mengaku terpaksa pergi dari rumah, diusir ayahnya karena ngotot ingin sekolah. Darsono yang merantau ke Jakarta terlunta-lunta dan pernah menjadi office boy di salah satu perusahaan di Jakarta. Berkat keuletan dan ketelatenan yang penuh perjuangan cita-cita Darsono berhasil mendirikan Universitas Pamulang. Biaya kuliah di Unpam menurut Darsono sangat murah. Mahasiswa bisa mengangsur uang kuliahnya selama satu semester Rp 100 ribu per bulan

Edited : Lina Lisnawati

Bambu Bernilai Ade Supriatna

0 comments

Ade Supriatna
Bencana gempa yang terjadi pada Tahun 2009 di desa cisompet meninggalkan keprihatinan mendalam bagi Ade supriatna. Bagaimana tidak demikian, Warga desa yang sebelumnya mengandalkan hasil pertanian, tak bisa lagi bergantung pada lahannya. Akibat gempa perekonomian warga juga tak berdaya. Lahan-lahan sawah jadi tak optimal hasilnya. Ade tak sekadar prihatin dan tak berbuat apa-apa. Dia ingin mengajak warga desanya bangkit dari penderitaan dan melepaskan ketergantungan dari bantuan pihak lain. 
Ade sadar betul bahwa daerahnya memilki kekayaan bambu yang sangat potensial. Itulah sebabnya, dia bersama dua rekannya, menggagas pendirian Bambu Indah Nusantara (BIN) pada awal 2011. Mulanya, BIN mengajarkan masyarakat untuk membuat rumah ramah gempa dengan bahan dasar bambu. Ade yang pernah berkunjung ke Jepang, melihat banyak rumah tahan gempa di sana yang terbuat dari bambu. 
Selain membuat rumah bambu, warga juga mengolah bambu sebagai pengganti kayu untuk lantai, furnitur, barang kerajinan, dan aneka perkakas. Tentu keterlibatan warga itu tak serta merta. Ade harus lebih memberikan sosialisasi dan motivasi pada warga tentang banyaknya produk bisa dibuat dari bambu. Ade juga mengajarkan cara menebang batang bambu serta membelah bambu. Kemudian, BIN membeli bambu-bambu itu dengan harga Rp 5.000 per meter. 
Selain itu, BIN membeli bambu itu bertujuan mengurangi pengangguran. Selanjutnya dari hasil pemasaran bambu ini, BIN akan memberikan bibit pohon bambu sehingga tetap tercipta kesinambungan. Ade menetapkan konsep tebang satu batang bambu, tanam dua pohon bambu. Dengan program ini, BIN ingin masyarakat mau menanam dan memelihara bambu sebagai aset sekaligus mata pencaharian. Meski baru berjalan, BIN sudah mampu mengumpulkan omzet hingga mencapai Rp 20 juta per bulan. Dari penjualan bambu, warga Desa Cisompet pun bisa mengumpulkan omzet Rp 5 juta dari 1.000 batang bambu yang terjual per bulan.

Edited by : Lina lisnawati

Ambrosius Ruwindrijarto : Peraih Ramon Magsaysay Award 2012

0 comments

Ambrosius Ruwindrijarto
Ruwi begitu sapaannya, ia adalah laki-laki bersahaja kelahiran Grobogan, Jawa Tengah, 14 November 1971, itu bergabung dengan lima peraih penghargaan Ramon Magsaysay 2012 lainnya. Yaitu, Chen Shu-chu dari Taiwan, Romulo Davide (Filipina), Kulandei Francis (India), Syeda Rizwana Hasan (Bangladesh), dan Yang Saing Koma (Kamboja). Ruwi pun resmi masuk klub penerima penghargaan Ramon Magsaysay dari Indonesia. Dia menyusul jejak beberapa tokoh, antara lain mantan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur), penulis Pramoedya Ananta Toer, dan mantan Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin.
Bagi Ruwi, bersentuhan dengan alam bebas bukan barang baru. Dia melakukannya sejak berstatus mahasiswa di Fakultas Kelautan Institut Pertanian Bogor (IPB). Kala itu dia kerap melanglang ke alam bebas bersama Lawalata, unit kegiatan mahasiswa (UKM) di kampusnya."Setelah lulus pada 1997, dia membentuk Telapak bersama empat kawannya.  Motivasi awalnya adalah ingin tetap bekerja di bidang lingkungan hidup. Garis merah gerakan Ruwi dkk adalah tujuan mewujudkan kelestarian alam serta membangun ekonomi berbasis kerakyatan bagi nelayan, petani, dan masyarakat adat. Ruwi menjadi ketua organisasi itu pada 2006-2012.
Perkumpulan Telapak terus berkembang. Organisasi tersebut kini beranggota 240 orang dari beragam latar belakang profesi. Lewat organisasi itu pula, Ruwi berjuang membongkar kejahatan lingkungan yang marak terjadi di tanah air. Impian mereka adalah membuat sistem tandingan dalam pengelolaan sumber daya alam (SDA) serta mengembalikan kedaulatan petani, nelayan, dan masyarakat adat. Karena latar belakang anggota yang bervariasi, kegiatan Telapak sangat variatif. Yang concern di bidang perikanan, misalnya, membuat program ramah lingkungan dan menjauhi destructive fishing. Misalnya, yang dulu menghancurkan karang kini justru membudidayakan karang. Di bidang kehutanan, mereka membentuk koperasi pengelola hutan. Ruwi mengatakan, sekarang saatnya masyarakat adat dan petani hutan mengelola lahan sendiri."Salah satu program yang kini digarap Ruwi adalah pendampingan masyarakat adat Dayak Benuaq di Muara Tae, Kutai Barat, Kalimantan Timur

Edited by : Lina Lisnawati

Sumber : http://www.jpnn.com/read/2012/08/02/135559/Ambrosius-Ruwindrijarto,-Aktivis-Lingkungan-Peraih-Ramon-Magsaysay-Award-2012-
Gambar : www.rmaf.org.ph